Keakraban yang Menuntun Jalan Bangsa

Admin
23 Nov 2025 13:00
News Opini 0 13
8 menit membaca

Oleh: Arvindo Noviar

Ruang kerja dalam foto itu menyimpan suasana yang akrab dalam penyelenggaraan negara. Dua penyelenggara negara duduk berhadapan sambil menelaah tumpukan persoalan yang mengalir dari banyak daerah, mencoba memetakan apa saja yang sedang dirasakan rakyat di luar sana.

Suasana yang tergambar itu mengingatkan bahwa kerja kenegaraan tumbuh dari percakapan rutin para pemegang mandat rakyat. Dunia boleh saja berubah cepat dan sering tidak memberi ruang untuk sekadar menghela nafas, namun cara memahami rakyat harus tetap dijaga melalui pertemuan yang teratur dan mendalam agar aliran persoalan yang muncul dari lapangan dapat terbaca dengan kejernihan yang menuntun penyelenggara negara sampai pada persoalan di lapisan yang paling bawah.

Di balik percakapan yang tenang itu, ratusan ribu dapur rumah tangga sedang menyesuaikan hidupnya. Harga beras yang naik beberapa kali dalam satu tahun terakhir memaksa banyak keluarga mengatur ulang menu harian agar pengeluaran tidak melonjak.

Di pasar tradisional, pedagang sayur merelakan sebagian keuntungan mereka demi menjaga pelanggan agar tidak kabur. Ibu-ibu di kampung menyusun strategi harian supaya uang belanja tetap cukup untuk seminggu ke depan.

Kenaikan harga ini tidak terjadi sendirinya. Ia lahir dari cuaca yang semakin sulit diprediksi, jalur distribusi yang sering tersendat, dan tekanan global yang memengaruhi harga pangan. Kenyataan seperti ini menjadi bahan utama yang dibawa legislatif ketika duduk bersama eksekutif.

Ketika dapur tertekan, seluruh rumah ikut gelisah. Karena itu program Makan Bergizi Gratis menjadi salah satu jalan yang sedang disiapkan negara untuk memastikan anak-anak tetap tumbuh sehat meski tekanan ekonomi tidak selalu bersahabat.

Program ini bukan sekadar bantuan, melainkan investasi jangka panjang yang menanamkan gizi yang cukup sejak dini agar bangsa tidak kehilangan sumber daya manusia unggul di masa depan. Dalam pelaksanaannya, tenaga kerja terserap, rantai pasok pangan lokal ikut bergerak dan para pelaku usaha kecil mendapat ruang baru untuk berperan.

Dari sinilah kita mulai melihat bagaimana sebuah program dapat mengurangi tekanan di dapur rakyat sambil membuka peluang kerja di tingkat bawah yang akan semakin nyata seiring perluasan implementasinya.

Di tempat lain, anak-anak sekolah masih harus menempuh perjalanan yang panjang menuju ruang belajar. Ada yang berjalan melintasi pematang sawah, ada yang menyeberangi sungai kecil ketika jembatan darurat rusak karena hujan, dan tidak sedikit yang menumpang kendaraan kebun untuk mencapai sekolah terdekat.

Gambaran seperti ini masih muncul dalam banyak laporan dari wilayah terpencil dan menjadi penanda bahwa kesenjangan akses pendidikan belum benar-benar tertutup.

Laporan-laporan itu mengingatkan kita pada kebutuhan yang lebih mendasar: pendidikan yang merata, keterampilan yang terjangkau, dan jalur pembelajaran yang memberi pegangan kepada rakyat untuk memasuki dunia kerja yang terus berubah.

Program Sekolah Rakyat, lembaga pelatihan vokasi, hingga sekolah berbasis keterampilan praktis bergerak untuk membuka jalan itu, memberi anak-anak desa sarana agar kemampuan mereka tumbuh sejalan dengan tuntutan zaman dan tidak berhenti pada selembar ijazah semata.

Petani merasakan persoalan yang lain. Hasil panen tidak selalu stabil karena cuaca semakin sulit diprediksi dan ongkos produksi naik dari tahun ke tahun.

Di banyak daerah, mereka bisa panen melimpah namun harga anjlok karena biaya angkut masih tinggi dan jalur distribusi sering terhambat. Ketika truk harus menempuh jalan panjang menuju pasar induk, keuntungan petani habis di tengah perjalanan.

Laporan seperti ini membuat jalur distribusi menjadi ruang yang harus ditata ulang agar hasil tani tidak kehilangan nilai sebelum tiba di tangan pembeli.

Di sinilah arti penting kehadiran kereta khusus petani dan pedagang, penguatan pelabuhan kecil, dan perbaikan logistik nasional yang kini dikerjakan pemerintah.

Jalur rel yang dimanfaatkan menghubungkan kota besar sekaligus membuka akses baru bagi produsen kecil menuju pasar yang lebih luas dan terjangkau, memberi ruang bagi rakyat bawah untuk masuk ke arus ekonomi yang bergerak semakin cepat.

Di pesisir, kehidupan nelayan berjalan di tengah persoalan yang berlapis. Banyak kampung nelayan masih berdiri di tepi pantai yang tergerus abrasi, fasilitas air bersih terbatas, dan hasil tangkapan sering kehilangan nilai karena tidak tersentuh teknologi penyimpanan yang memadai.

Dermaga kecil yang menjadi tumpuan warga sering rusak ketika cuaca berubah, sementara akses jalan menuju pasar tidak selalu layak untuk menahan beban logistik harian. Laporan-laporan semacam ini mengemuka dari banyak daerah dan menjadi dasar bagi negara untuk mengambil langkah yang lebih terstruktur.

Karena itu Presiden melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan menargetkan pembangunan seribu Kampung Nelayan Merah Putih pada 2026, program yang kini sudah menuntaskan enam puluh lima lokasi dan bergerak menuju seratus kampung pada tahap pertama.

Dari pembangunan infrastruktur dasar, cold storage, tempat pelelangan, hingga ruang sosial yang layak, nantinya nelayan tidak lagi harus bergantung pada cuaca semata, tetapi memiliki fondasi hidup yang lebih kuat untuk mengirimkan hasil tangkapan dengan mutu yang terjaga dan harga yang pantas bagi keluarga mereka.

Di atas semua itu, geopolitik kawasan bergerak dengan suhu yang terus naik. Karena Indonesia berada di jalur perdagangan global yang dilalui hampir separuh arus barang dunia, setiap ketegangan di Laut Cina Selatan, perubahan kebijakan ekonomi Amerika dan Tiongkok, serta dinamika keamanan Jepang yang berkaitan dengan isu kawasan Taiwan, langsung terasa di gudang logistik, di stasiun pengangkutan, dan pada akhirnya di dapur rakyat.

Ketahanan nasional tidak lagi berdiri terbatas pada ranah pertahanan, melainkan menjangkau kemampuan keluarga menjaga kehidupan sehari-hari. Itulah sebabnya cadangan pangan nasional, pembangunan pabrik pakan, dan penguatan pertahanan bergerak dalam satu rangkaian langkah yang saling menguatkan agar rakyat mampu bertahan menghadapi tekanan dunia yang semakin tidak stabil.

Di kota-kota besar, arus manusia bergerak dalam gelombang yang padat sejak dini hari. Setiap peron menampung ribuan pekerja yang menggantungkan hidup pada ketepatan waktu kereta komuter karena perjalanan jalan raya sudah terlalu sesak untuk menampung kebutuhan mobilitas harian.

Di Jabodetabek saja, pengguna KRL mencapai ratusan ribu orang per hari dan dalam banyak hari kerja mendekati satu juta penumpang, menjadikannya alat yang menjaga biaya hidup tetap terkendali bagi keluarga pekerja.

Tanpa kapasitas kereta yang memadai, pengeluaran rumah tangga akan lebih mudah meningkat dan akses pekerjaan bisa tersendat hanya karena kemacetan yang tidak kunjung berkurang. Sebab itu perluasan jalur rel, integrasi antarmoda, dan penambahan rangkaian baru menjadi kerja negara yang harus terus bergerak.

Kebijakan Presiden yang mengalokasikan lima triliun rupiah untuk menghadirkan tiga puluh rangkaian KRL baru menunjukkan bahwa rel sedang diperkuat sebagai tumpuan utama mobilitas rakyat, sekaligus penghubung yang mengalirkan kesempatan dari pusat-pusat ekonomi kepada jutaan pekerja yang membangun kota setiap hari.

Jika semua persoalan ini berdiri sendiri, negara akan kewalahan. Namun negara tidak bergerak dalam ruang satuan. Negara bergerak melalui pemetaan, penggabungan, dan penyelarasan yang terus diperbarui. Pemetaan menunjukkan akar persoalan yang harus dibaca dengan jernih.

Penggabungan memperlihatkan hubungan antarsektor yang menentukan arah kebijakan. Penyelarasan menghubungkan suara rakyat dengan kemampuan negara menjawab. Tanpa penyelarasan, masalah berhenti sebagai keluhan. Dengan penyelarasan, masalah berubah menjadi peta kerja.

Di sinilah pentingnya peran legislatif. Mereka membawa suara rakyat dari kampung yang jauh, dari lorong-lorong kota kecil, dari tepian sungai tempat ekonomi rakyat bergantung, dan dari pasar yang mulai sepi pembeli.

Mereka menjadi pengumpul aspirasi paling murni sekaligus penjaga agar negara tidak terjebak melihat rakyat melalui angka statistik semata. Legislatif meneguhkan bahwa setiap suara harus menemukan jalur menuju meja kerja negara.

Eksekutif memegang alat untuk mengurai persoalan. Data, anggaran, birokrasi, dan jaringan pelaksana berada dalam jangkauan mereka, namun seluruh alat itu memerlukan arah yang tumbuh dari rakyat. Arah itu hadir melalui legislatif yang membawa kenyataan dari lapangan dan menuntun prioritas negara.

Ketika legislatif duduk bersama eksekutif, dua pintu bangsa saling tersambung. Dari pertemuan itu berbagai program yang sudah dibahas pada bagian sebelumnya seperti Makan Bergizi Gratis, Sekolah Rakyat, Kampung Nelayan Merah Putih, kereta khusus petani, penambahan tiga puluh rangkaian baru KRL, cadangan pangan nasional, pabrik pakan, serta penguatan pertahanan mendapatkan bentuk operasional yang sesuai dengan kebutuhan sehari hari rakyat.

Dalam situasi politik tanah air yang dinamis, kerja bersama legislatif dan eksekutif menjaga arah bangsa tetap stabil. Kedekatan legislatif dengan rakyat memastikan suara dari kampung, pesisir, pasar, dan kota kecil tidak terputus.

Ketepatan langkah eksekutif memastikan suara itu dapat diterjemahkan menjadi kebijakan yang bergerak di lapangan. Pertemuan keduanya menjadi penyangga utama yang menyatukan kenyataan sosial dengan kemampuan negara menata dan menyelesaikan persoalan.

Pada akhirnya bangsa ini hanya dapat melangkah jauh ketika dua pintu itu tetap saling terbuka. Legislatif membawa suara rakyat yang ingin hidup lebih tenang dan lebih layak, sementara eksekutif menjalankan alat yang dibutuhkan untuk menjawab suara itu.

Dalam banyak pertemuan kerja yang sederhana, hubungan keduanya terlihat bukan hanya sebagai mekanisme lembaga tetapi juga sebagai hubungan kepercayaan yang tumbuh di antara para pemimpinnya.

Keakraban yang tercermin dalam cara Presiden dan Wakil Ketua DPR bertegur sapa memperlihatkan bahwa arah bangsa dapat dibangun melalui kerja yang disiplin sekaligus hangat.

Dari ruang seperti itu tumbuh kebijakan yang menyejahterakan rakyat kecil, memperkuat keamanan jangka panjang, dan menjaga negara tetap siap menghadapi dunia yang semakin kompleks.

Di sanalah Presiden Prabowo bersama sosok yang beberapa waktu lalu ia sapa sebagai Don Dasco alias si Kancil merumuskan jawaban atas berbagai persoalan bangsa.[]

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x
x