
ASPIRATIF.ID — Subuh itu, air datang dengan geramnya, mengubah kampung menjadi lautan yang gelap. Ana ,istri kepala lorong di Desa Babo, Aceh Tamiang, masih mengingat dengan jelas kejadian saat itu.
“Kami menyelamatkan diri dengan suami, menggunakan ban mobil bekas untuk mengapung,” kata Ana dengan suara serak.
Banjir bandang yang datang meluluhlantakkan segala yang mereka miliki.
“Air datang begitu cepat. Hanya ada waktu untuk menyelamatkan nyawa.” sambungnya.
Kisah pilu Buk Ana dan ratusan warga Babo lainnya jadi alasan mengapa, pada Sabtu, 20 Desember 2025 lalu , tim dari SAY Montessori School menempuh perjalanan penuh tantangan.
Tujuannya satu, menyampaikan bantuan dan mengulurkan tangan kepada salah satu desa paling terisolir yang terdampak bencana.
Babo bukanlah destinasi yang mudah dicapai. Dari jalan lintas nasional, diperlukan waktu hingga tiga jam melalui jalan berlumpur, rusak, dan medan yang menguji.
Akses yang sulit ini menjadikan Babo bagai pulau yang terkurung daratan, sering terlupakan dalam peta distribusi bantuan. Namun, justru isolasi inilah yang menguatkan teknis tim SAY Montessori.
“Kami memilih Babo karena informasi dari relawan lokal bahwa bantuan masih sangat minim sampai ke sana. Titik-titik yang lebih mudah dijangkau sudah banyak menerima, sementara daerah seperti Babo kerap terabaikan,” jelas Rita Prisilia, Founder SAY Montessori School yang memimpin penyaluran bantuan ini.
“Prinsip Montessori mengajarkan kita untuk peka terhadap kebutuhan sesama, terutama yang paling rentan. Bagi kami, setiap anak di Babo, setiap keluarganya, adalah tanggung jawab kemanusiaan kita bersama,” lanjutnya.
Di bawah koordinasi Rita, tim tidak hanya membawa sembako. Mereka membawa paket-paket spesifik yang menyasar kebutuhan mendesak anak-anak: perlengkapan sekolah darurat, buku dan alat tulis, pakaian layak pakai, mainan edukatif untuk meredakan trauma, serta kebutuhan khusus bayi seperti popok dan susu. Bantuan tersebut disalurkan langsung dari rumah ke rumah, memastikan tepat sasaran.
“Kami ingin bantuan ini bukan sekadar barang, tetapi simbol bahwa mereka tidak sendirian. Terutama untuk anak-anak, di tengah keprihatinan, mereka masih bisa menggambar, masih bisa bermain, masih punya harapan untuk kembali belajar,” kata Rita.
Pemandangan di Babo masih memilukan. Reruntuhan rumah, lumpur yang mengering, dan wajah-wajah lelah tampak di mana-mana.
Namun, di tengah kepedihan itu, kedatangan tim sekolah dari kota disambut dengan air mata haru dan jabat tangan erat.
Bantuan yang diberikan mungkin tak mampu mengembalikan apa yang hilang, tetapi ia menyalakan kembali secercah cahaya.
“Terima kasih telah mengingat kami. Perjalanan jauh ke sini, ini benar-benar dari hati,” ucap Buk Ana, memeluk erat paket bantuan.
Perjalanan pulang tim SAY Montessori diwarnai kelelahan fisik, tetapi hati mereka penuh dengan kesan mendalam.
“Hari ini kami tidak hanya membagikan kebutuhan fisik. Kami belajar tentang ketangguhan, tentang solidaritas warga Babo yang saling menopang, dan tentang betapa pentingnya mendengar suara dari wilayah yang ‘jauh’ di peta. Bagi SAY Montessori, ini panggilan untuk terus berkomitmen, karena pemulihan Babo masih panjang,” tutup Rita Prisilia.[Rama]
Tidak ada komentar