Ekonomi Kerakyatan Bersemi di Aceh Selatan, Seluruh Mitra MBG Apresiasi Kinerja Badan Gizi Nasional Aceh

Redaksi
20 Jan 2026 17:34
Daerah News 0 95
3 menit membaca

ASPIRATIF.ID – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Aceh Selatan tidak sekadar menjadi program pemenuhan nutrisi, tetapi telah menjelma menjadi gerakan sosial-ekonomi yang masif. Seluruh mitra pengelola dapur di wilayah “Kota Naga” ini menyatakan apresiasi mendalam atas dampak nyata dan transparansi tata kelola yang dijalankan oleh pemerintah melalui Badan Gizi Nasional (BGN).

Geliat ekonomi ini terlihat jelas di berbagai gampong. Ribuan porsi makanan sehat kini diproduksi setiap pagi dari dapur-dapur lokal, melibatkan ratusan tenaga kerja perempuan, dan menyerap hasil tani dari kebun-kebun rakyat.

Salah satu penggerak utama di lapangan adalah Evi Susanti, pemilik dapur di Gampong Padang, Tapaktuan, di bawah bendera Yayasan Ruang Kito Basamo. Mewakili suara para mitra di Aceh Selatan, Evi mengungkapkan bahwa program ini adalah jawaban atas penantian panjang masyarakat akan program yang menyentuh langsung dapur warga.

​”Kehadiran MBG ini adalah berkah. Kami dari seluruh mitra di Aceh Selatan merasakan betul bagaimana program ini menghidupkan kembali gairah UMKM. Bukan hanya yayasan kami, tapi mulai dari pedagang pasar, peternak telur, hingga tukang becak yang mengantar makanan, semua merasakan manfaat ekonominya,” ujar Evi Susanti dalam keterangannya, Selasa (20/1/2026).

banner 350x350

​Evi menekankan bahwa dampak signifikan yang paling dirasakan adalah multiplier effect ekonomi. Sejak kehadiran MBG, daya beli masyarakat di sekitar lokasi dapur meningkat karena adanya lapangan kerja baru yang tercipta bagi ibu-ibu rumah tangga dan pemuda setempat.

Keberhasilan implementasi program di Aceh Selatan diakui para mitra tidak lepas dari manajemen yang profesional dan humanis dari Badan Gizi Nasional (BGN) Regional Aceh. Para mitra secara kolektif memberikan apresiasi tinggi terhadap kinerja BGN Aceh di bawah kepemimpinan Mustafa Kamal.

​”Kami sangat mengapresiasi kinerja Badan Gizi Nasional Aceh. Di bawah pimpinan Bapak Mustafa Kamal, BGN tidak hanya hadir sebagai pengawas, tapi sebagai mitra diskusi yang solutif. Beliau sangat responsif terhadap kendala di lapangan, memastikan standar gizi tetap terjaga tanpa memberatkan mitra kecil,” tambah Evi.

Sinergi yang dibangun Mustafa Kamal dinilai berhasil menciptakan rasa memiliki (sense of belonging) bagi para pengelola dapur gampong. Standar higienitas dan kualitas bahan baku dipantau secara ketat namun tetap mengutamakan kearifan lokal Aceh.

Berdasarkan data operasional terkini, keberhasilan di Aceh Selatan merupakan bagian dari keberhasilan transisi gizi di tingkat provinsi. Saat ini, tercatat sebanyak 553 dapur atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) telah beroperasi penuh di seluruh Aceh.

​Dampak signifikan yang telah terlihat sejak kehadiran MBG di Aceh antara lain:

​Ketahanan Pangan: Terciptanya rantai pasok pendek dari petani langsung ke dapur sekolah.

​Stabilitas Gizi: Penurunan angka malnutrisi pada anak-anak di wilayah pelosok Aceh Selatan.

​Kemandirian Ekonomi: Pemberdayaan yayasan dan koperasi lokal sebagai pilar utama penyediaan makanan nasional.

Bagi masyarakat Aceh Selatan, MBG adalah bukti nyata bahwa pembangunan SDM yang unggul dimulai dari piring makan anak sekolah, yang dikelola secara amanah oleh tangan-tangan lokal dan didukung penuh oleh kebijakan negara yang tepat sasaran.[]

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x
x