Cerita Sufi Tentang Musibah Banjir : Banjir yang tidak menenggelamkan Hati

Redaksi
21 Des 2025 07:27
News Tarikh 0 140
3 menit membaca

Pada suatu masa, kota Tustar dilanda banjir besar.Air naik tanpa peringatan.

Hujan turun berhari- hari tanpa jeda,seolah langit lupa menutup pintunya. Sungai meluap seperti dinding yang runtuh dan menyeret apa saja yang dilaluinya.

Rumah-rumah roboh.Gudang makanan hanyut bersama simpannan hidup bertahun-tahun. Jerit tangis bercampur dengan suara air yang menghamtam kayu, batu dan dinding.

Orang orang berlari sambil menyebut nama Allah. Namun kebanyakan suara itu keluar dari mulut yang ketakutan, bukan dari hati yang benar-benar berserah.

Sebagian mengemgam harta terakhirnya. Sebagian memeluk anak-anak mereka sambil bergetar. Sebagian lagi berdiri terpaku,tak tahu harus menyelematkan apa terlebih dahulu.

Di tengah kekacauan itu, murid-murid Sahl ibn ‘Abdillah at-Tustari melihat sesuatu yang mengguncang batin mereka.

Guru mereka duduk di sudut masjid. Air telah mecapai betisnya.Kitab-kitab basah dan sebagian teremdam.Pakaian zuhudnya melekat di tubuh.

Dinding masjid mulai retak dan lampu-lampu padam satu demi satu.Namun wajahnya tidak panik.Tidak tergesa,tidak memberontak.

Tenang,seakan-akan banjir itu hanya melewati tubuhnya,tanpa menemukan jalan menuju hatinya.

Seorang murid mendekat,suaranya bergetar, hanpir menangis.

“Wahai guru, apakah ini azab?

Sahl tidak segera menjawab.Ia memandang air yang terus mengalir deras,lalu berkata perlahan,seakan berbicara kepada hati,bukan telinga,

“Azab itu ketika air masuk ke dalam hati. Banjir ini hanya masuk ke rumah,”

Murid lain menyela, nadanya penuh luka dan ketakutan:

” Tapi manusia kehilangan segalanya. Anak-anak mati,harta hilang, masa depan musnah.Bagaimana ini bukan murka Allah?

Sahl mengangkat wajahnya.Matanya basah,bukan karena air,melainkan karena kasih dan belas terhadap manusia yang sedang diuji.

“Jika ini murka,Allah tidak akan mengingatkan.Jika ini azab,Allah tidak akan mengetuk hati.

Musibah datang bukan untuk membalas dendam, tetapi untuk membangunkan.

Air terus naik,orang-orang memanjat tempat tinggi.Sebagian memaki takdir,sebagian mencari siapa yang harus disalahkan.

Sebagian lain mulai diam,dan untuk pertama kalinya bertanya kepada diri sendiri tentang hidup yang selama ini dijalani,tentang sandaran yang selama ini mereka banggakan.

Sahl berkata lagi,” banjir tidak memilih orang saleh atau pendosa.Tetapi dampak banjir memilih hati.

Ada yang tenggelam dalam air, lalu selamat imannya.Ada yang tubuhnya selamat,tetapi tenggelam tawakkalnya.

Seorang murid bertanya dengan suara yang semakin kecil :

“Jika semua ini dari Allah,mengapa rasanya sakit sekali?”

Sahl menjawab tanpa meninggikan suara:

“Karena hatimu masih melekat pada apa yang diambil, bukan kepada siapa yang mengambil. Selama yang kau cintai lebih kau genggam daripada Allah,kehilangan akan selalu terasa seperti hukuman,”.

Malam tiba,hujan mulai berhenti, air perlahan surut.Kota Tustar berubah menjadi lumpur, puing,dan jenazah.

Tangisan terdengar di setiap sudut. Kesedihan menggantung di udara,menyisakan sunyi yanh berat dan panjang.

Namun, dibalik kehancuran itu,banyak hati yang runtuh dari kesombongan,banyak jiwa yang terlepas dari sandaran palsu, dan banyak manusia yang kembali kepada Allah dengan kepasrahan yang jujur.

Dan itulah keselamatan yang tidak terlihat oleh mata,tetapi dikenali oleh hati yang pernah hancur. Sahl menutup malam itu dengan satu kalimat:

“Musibah bukan tanda Allah membenci.Musibah adalah cara Allah berkata’Aku masih peduli kepadamu,”.[]

Catatan: Tulisan ini disusun sebagai hikayat tasawuf yang berasaskan ajaran dan pandangan Sahl Ibn ‘Abdillah at-Tustari tentang musibah dan keadaan hati.

 

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x
x