Hamzah Bin Abdul Muthalib : Saat Amarah Berubah Menjadi Iman

Redaksi
9 Jan 2026 08:44
News Tarikh 0 94
3 menit membaca

MAKKAH  siang itu berdebu dan panas. Di lembah kota yang keras itu,Rasulullah SAW berdiri sendirian di dekat bukit Shafa. Tidak ada pasukan,tidak ada pelindung. Hanya seorang Nabi dengan dakwah yang ditertawakan dan dihina.

Tiba-tiba Abu Jahl datang. Dengan wajah penuh kebencian,ia mencaci Rasulullah. Kata-katanya tajam,menghina nasab,mencela ajaran,merendahkan kehormatan.

Ia tidak hanya melukai lisan,tetapi menusuk harga diri seorang keponakan yang dicintai.

Rasulullah diam,beliau tidak membalas,beliau tidak melawan. Beliau menahan semua didadanya.

Tak jauh dari situ,seorang budak perempuan melihat kejadian itu. Hatinya terbakar. Namun,ia tak berdaya. Ia hanya menyimpan peristiwa itu,menunggu waktu.

Sore harinya, Hamzah bin Abdul Muthalib pulang dari berburu. Tubuhnya tegap,busurnya ditangan. Wajahnya keras, wajah seorang singa Quraisy.

Ia adalah paman Rasulullah Shallaahu alaihi wasallam,saudara sepersusuan beliau dan salah satu lelaki paling di segani di Makkah.

Budak perempuan itu mendekat dan berkata dengan suara bergetar, ” Wahai Abu Umarah,andai engkau melihat apa yang Abu Jahl lakukan pada keponakanmu,”

Hamzah berhenti melangkah. “Apa yang ia lakukan?” tanyanya. Ia mendengar semuanya. Setiap kata hinaan,setiap cercaan terhadap Rasulullah.

Darah Hamzah mendidih. Bukan karena agama,bukan karena dakwah. Tetapi karena kehormatan keluarga Bani Hasyim di injak-injak di depan umum.

Tanpa berkata apapun,Hamzah melangkah cepat menuju Ka’bah. Abu Jahl sedang duduk di sana bersama para pembesar Quraisy,mereka tertawa merasa menang.

Hamzah mendekat. Tanpa peringatan,ia mengangkat busurnya dan menghamtam kepala Abu Jahl hingga berdarah. Dengan suara mengguntur,Hamzah berkata : ” Bagaimana mungkin engkau mencaci Muhammad,padahal aku berada di atas agamanya?, Aku mengatakan apa yang ia katakan!”

Semua terdiam. Kalimat itu keluar begitu saja. Bukan karena iman,bukan karena yakin. Tetapi karena amarah dan pembelaan. Namun,kalimat itu telah diucapkan dan langit mendengarnya.

Abu Jahl terhuyung. Orang-orang Quraisy hendak membalas,tetapi ia menghentikan mereka. “Biarkan ,” katanya. “Aku memang telah mencacinya,”

Malam itu,Hamzah pulang dengan dada bergemuruh.Amarahnya mereda dan kegelisahan datang. Ia duduk sendiri. Kalimat yang ia ucapkan siang tadi terus terngiang di kepalanya.

“Apakah aku benar-benar berada di atas agamanya?” .Hatinya gelisah ,jiwanya berperang dengan dirinya sendiri.

Hamzah menuju Ka’bah di malam sunyi. Ia berdoa kepada Allah,Tuhan yang sejak lama ia kenal,tetapi belum sepenuhnya ia ikuti.

” Ya Allah,jika apa yang di bawa Muhammad itu benar,lapangkanlah dadaku. Jika tidak, tunjukkanlah kepada ku.”

Keesokan harinya,Hamzah mendatangi Rasulullah. Wajahnya serius,suaranya berat. “Wahai keponakanku,jelaskan kepadaku tentang apa yang engkau bawa.”

Rasulullah berbicara.Tentang tauhid,tentang keadilan,tentang akhirat,tentang Allah Yang Maha Esa. Setiap kata masuk ke dada Hamzah dan menetap.

Saat itu, amarah berubah menjadi keyakinan.Pembelaan berubah menjadi iman. Hamzah berkata dengan suara mantap.” Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, dan engkau adalah utusan-Nya.”

Wajah Rasulullah bersinar.Islamnya Hamzah bukan sekedar satu jiwa bertambah,tetapi benteng umat ditegakkan.

Sejak hari itu,kaum muslimin shalat terang-terangan. Dakwah tak lagi sepenuhny sembunyi. Quraisy mulai gentar. Dan Rasulullah memberinya gelar Asadullah wa Asadu Rasulih,Singa Allah dan Singa Rasul-Nya.

Hamzah masuk Islam bukan karena lembutnya awal, tetapi karena kejujuran hati yang akhirnya tunduk pada kebenaran. Dan Allah menjadikan amarahnya sebagai pintu hidayah.[]

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x
x