Utsman bin Affan dan Rasa Malu yang Membuat Malaikat Menunduk

Redaksi
7 Jan 2026 11:30
News Tarikh 0 157
3 menit membaca

Madinah suatu siang terasa tenang.Angin gurun berhembus pelan, membawa debu halus yang menari di udara.Di balik dinding rumah yang sederhana, Rasulullah SAW duduk bersama istrinya, Aisyah RA.

Tidak ada majelis resmi, tidak ada mimbar. Hanya seorang nabi yang pulang ke rumahnya, menanggalkan segala formalitas dunia.

Beliau duduk dengan santai sebagai mana seseorang yang merasa aman dirumahnya sendiri.Tiba tiba terdengar salam.

banner 350x350

Abu Bakar masuk.Rasulullah tetap duduk seperti semula.Tidak ada jarak,sebab Abu Bakar bukan orang asing. Ia adalah sahabat jiwa, teman gua, orang yang paling memahami kesadaran Rasulullah.

Tak lama kemudian, Umar bin Khattab masuk.Rasulullah masih pada posisinya. Umar pun memahami adab, dan keadaan itu tidak dianggap sesuatu yang melampaui batas. Lalu, terdengar lagi salam. Namun kali ini,udara terasa berbeda.

Itu adalah suara Utsman bin Affan. Begitu beliau melangkah masuk. Rasulullah segera merapikan pakaiannya. Duduk beliau berubah. Lebih tegak.Lebih tertutup, lebih terjaga. Seolah ada sesuatu yang tidak kasat mata,namun sangat terasa,hadir bersama Utsman.

Aisyah memperhatikan semuanya dengan mata yang jujur.Ia melihat perbedaan itu. Ia menyimpan pertanyaan di hatinya, hingga akhirnya bertanya dengan penuh adab:

” Wahai Rasulullah, engkau tidak berbuat demikian ketika Abu Bakar dan Umar masuk. Mengapa engkau berubah ketika Utsman masuk?”

Rasulallah menoleh, lalu menjawab dengan suara tenang, namun maknanya nenggetarkan langit:

“Tidakkah aku merasa malu kepada seorang lelaki yang malaikat pun malu kepadanya,? (HR.Muslim).

Kalimat itu singkat.Namun sejarah berhenti sejenak untuk mendengarnya. Malaikat, makhluk yang diciptakan dari cahaya.Yang tidak bermaksiat. Yang tidak mengenal hawa nafsu.Merasa malu kepada seorang manusia. siapakah Utsman?

Ia bukan sekadar saudagar kaya. Bukan hanya menantu Rasulullah.Bukan pula sekadar khalifah di masa depan.

Ia adalah seorang lelaki yang malu kepada Allah, bahkan ketika tidak ada manusia yang melihatnya. Utsman malu jika lisannya tergelincir. Maka ia memilih diam, bukan karena tak mampu bicara, tetapi karena takut satu kata mengundang murka Allah.

Ia malu jika pandangannya melampaui batas. Maka ia menunduk kan mata,bukan karena lemah, tetapi karena hatinya hidup.

Ia malu jika dunia masuk terlalu dalam ke hatinya. Padahal dunia datang kepadanya tanpa diminta.Malu itu tidak dibuat -buat. Tidak dipelajari untuk dipamerkan. Ia tumbuh dari iman yang selalu merasa diawasi.

Dihadapan manusia Utsman lembut. Dihadapan dunia,ia menunduk. Di hadapan Allah,ia gemetar dalam kesadaran. Dan justru kelembutan itulah yang membuatnya agung.Justru rasa malu itulah yang membuat malaikat menunduk kan pandangan.

Saat menjadi khalifah, ia di uji dengan kekuasaan besar dan fitnah yang kejam.Ia disakiti, dituduh bahkan dikhianati. Namun sejarah tetap beraksi: Ia tidak pernah menanggalkan rasa malunya kepada Allah.

Maka dunia pun belajar satu pelajaran abadi, bahwa malu bukan tanda kelemahan. Bahwa kelembutan bukan penghalang kepemimpinan. Dan bahwa jiwa yang paling tinggi adalah jiwa yang paling tunduk.[Red]

 

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x
x