Kisah Rasulullah Menangis Demi Umat yang Belum Pernah Beliau Temui

Redaksi
30 Des 2025 06:14
News Tarikh 0 179
3 menit membaca

Malam di Madinah itu begitu sunyi. Angin berhembus lembut di antara pepohonan kurma,dan rumah-rumah para sahabat terlelap dalam istirahat. Namun, di sebuah kamar sederhana, cahaya lilin menyala redup.

Di sana,Rasulullah Muhammad SAW sedang duduk, kedua tangan Beliau terangkat ,namun suara beliau bergetar. Air mata perlahan turun membasahi pipi mulia itu.

Beliau menangis.Bukan karena lapar,bukan karena sakit, bukan pula karena ancaman musuh. Beliau menangis  karena memikirkan umatnya.

Umat yang bahkan belum pernah beliau temui ,asbab cinta yang melebihi cinta ibu pada anaknya.

“Ya Allah,umatku, umatku,”

Dalam sebuah riwayat sahih disebutkan bahwa malaikat Jibril mendapati Rasululah menangis. Jibril lalu bertanya:

“Wahai Muhammad,apa yang membuatmu menangis?”

Nabi menjawab dengan suara lembut namun penuh beban:

“Aku menangisi umatku,”

Lalu Allah memerintahkan Jibril untuk menyampaikan pesan-Nya:

“Wahai Jibril,pergilah kepada Muhammad.

Katakan kepadanya:

Kami akan membuatmu ridha terhadap umatmu san Kami tidak akan mengecewakanmu,” (HR.Muslim)

Jawaban itu menenangkan hati Rasulullah ,namun air mata beliau tetap jatuh.Cinta itu terlalu luas untuk ditampung oleh satu hati manusia.

Kerinduan kepada orang-orang yang belum dilahirkan

Pada hari yang lain, ketika para sahabat berkumpul di sekeliling beliau,Rasulullah berkata:

“Aku rindu kepada saudara-saudaraku.”

Para sahabat terkejut.

“Bukankah kami ini saudara-saudaramu,ya Rasulullah?”

Beliau menggeleng, tersenyum lembut.

“Kalian adalah sahabat-sahabatku.

Adapun saudara-saudara ku adalah mereka yang datang sesudahku, beriman kepadaku padahal mereka tidak pernah melihatku,” (HR.Muslim no.249).

Betapa menyesaknya dada para sahabat.

Mereka menyadari: Rasulullah merindukan generasi-generasi jauh setelah beliau wafat. Termasuk generasi sekarang,termasuk kita.

Doa yang tidak pernah beliau tinggalkan setiap malam,ketika manusia terlelap,Nabi bangun,bersujud lama sampai jenggot beliau basah oleh air mata.

Dalam sujudnya beliau berdoa :

“Ya Allah,ampunilah umatku,”

Beliau ulangi,sampai-sampai Allah berfirman  kepada Jibril:

“Pergilah kepada Muhammad dan katakan ,Sungguh,Aku tidak akan mengecewanmu dalam urusan umatmu,”

Doa itu tidak hanya dipanjatkan sekali.Doa itu terus beliau ucapkan,berulang,dalam setiap kesempatan,hingga nafas terakhir beliau.

Disaat wafat pun, umatnya masih menjadi kata terakhir.

Ketika ajal mendekati Rasulullah,tubuh beliau melemah,namun lidah beliau masih bergerak,suaranya pelan:

“Ummati,ummati,”

“Umatku,umatku,”

Ini bukan sekedar kisah.Ini warisan cinta yang membuat seorang Nabi menangis karena merindukan orang-orang yang belum lahir,termasuk kita pada hari ini.

Rasulullah menangis bukan karena takut,bukan karena sedih atas dirinya,tetapi karena kita.

Karena beliau ingin kita selamat.Karena beliau ingin kita masuk surga.Kita yang tidak pernah melihat Nabi Muhammad. Kita yang hidup ratusan tahun setelahnya.Kita yang disebut “saudara-saudaranya,”.

Semoga kita menjadi umat yang membuat Nabi Muhammad tersenyum kelak,sebagaimana beliau dulu menangis demi kita.[Red]

 

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x
x