Menu “Makan Bergizi Gratis” Dinilai Tak Masuk Akal: Pemuda Muhammadiyah Soroti Yayasan Berkah Cahaya

Admin
10 Okt 2025 21:51
Daerah News 0 39
2 menit membaca

ASPIRATIF.ID — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Aceh Selatan kembali menjadi sorotan publik. Kali ini, menu yang disajikan oleh Yayasan Berkah Cahaya di Desa Alur Pinang, Kecamatan Samadua, pada Jumat (10/10/2025), dinilai jauh dari standar gizi dan tidak sepadan dengan anggaran yang digelontorkan pemerintah.

Seorang wali murid yang anaknya bersekolah di wilayah tersebut mengungkapkan kekecewaannya. Menurutnya, menu MBG hari ini seperti menu makanan kami pada jaman dahulu.

“Bayangkan saja, menunya cuma ubi jalar rebus, satu butir telur rebus, kacang rebus, pisang rebus dicampur ketan parut, dan seiris timun serta wortel. Di mana letak bergizinya?” ujarnya dengan nada kecewa.

Menanggapi kondisi tersebut, Sekretaris Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah Aceh Selatan, Rahmad Kurniadi, S.H, menyampaikan kritik keras terhadap pengelolaan MBG di daerah itu.

“Menu yang disajikan di luar akal sehat kita. Sangat jauh melenceng dari juknis yang sudah ditetapkan,” tegas Rahmad Kurniadi dalam rilis tertulis yang diterima Redaksi Aspiratif Id, Jum’at malam, 10 Oktober 2025.

Rahmad menilai, dengan anggaran sebesar Rp15.000 per porsi, semestinya pihak penyedia mampu menghadirkan makanan bergizi, sehat, dan sesuai standar nasional.

“Kalau menunya seperti itu, cukup dengan Rp5.000 atau Rp6.000 per porsi saja. Jangan main-main dengan uang rakyat yang ditujukan untuk anak-anak bangsa,” ujarnya tajam.

Ia juga meminta Bupati Aceh Selatan, Ketua DPRK, dan lembaga pengawas terkait agar segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan MBG, khususnya kepada pihak-pihak yang diduga bermain di balik dapur penyedia.

“Jangan sampai terkesan ada permainan mata antara pihak tertentu dengan dapur-dapur nakal. Kalau seperti ini terus, masyarakat akan curiga bahwa ada saham pejabat dalam pengelolaan MBG,” tambahnya.

Rahmad juga mengingatkan bahwa Yayasan Berkah Cahaya sebelumnya sudah pernah dikeluhkan masyarakat, karena menu yang disajikan tidak layak konsumsi.

“Pernah dulu juga menunya bermasalah seperti jeruk yang rasanya sangat asam dan sayur basi. Ini bukan kejadian pertama. Artinya, ada pola yang tidak sehat dalam pelaksanaan MBG di tingkat yayasan,” ujarnya menegaskan.

Pemuda Muhammadiyah Aceh Selatan mengajak seluruh elemen masyarakat, terutama orang tua murid, untuk aktif mengawasi pelaksanaan MBG di sekolah-sekolah agar tidak diselewengkan.

“Program ini dibuat untuk menekan angka stunting dan membantu ekonomi masyarakat. Tapi kalau pelaksanaannya seperti ini, niat baik itu akan rusak. Jangan jadikan MBG sebagai ladang bisnis yang mengorbankan anak-anak,” tutup Rahmad Kurniadi.[]

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x
x