Cutma Fatimah: Raja Inong dari Pasie Raja (Kisah Ratu Lada Kerajaan Terbangan)

Redaksi
30 Jun 2025 03:48
News Opini 0 48
4 menit membaca

Oleh: Ilham Mirsal, MA (Ayah Ilham). 

Oleh: Ilham Mirsal, MA (Ayah Ilham)

Angin laut berhembus lembut di pagi itu. Riak ombak memecah di tepi muara Terbangan, menghadirkan aroma asin yang khas.

Di atas sebuah bukit kecil yang menghadap langsung ke Samudera Hindia, berdirilah sebuah bangunan kayu berukir indah. Tempat itu dikenal rakyat sebagai Jambo Madat, balai pertemuan yang menjadi saksi bisu datang dan perginya saudagar-saudagar dari negeri jauh.

Di dalamnya, duduk seorang perempuan berparas teduh namun berwibawa. Dialah Cutma Fatimah, atau yang lebih dikenal rakyatnya sebagai Raja Inong, Ratu Pertama di Terbangan, penguasa pesisir lada yang harum namanya hingga ke negeri seberang.

Hari-hari di Terbangan

Cutma Fatimah tidak lahir dari keluarga biasa. Ia adalah perempuan cerdas, bijaksana, dan memiliki jiwa kepemimpinan sejak muda. Setelah menikah dengan Teuku Puloe Ie, seorang bangsawan dari hulu, takdir membawanya menjadi pemimpin ketika rakyat membutuhkan pemimpin baru pasca wafatnya raja sebelumnya.

Mereka tinggal di Kuta Pasie, sebuah kawasan yang kini menjadi bagian dari Gampong Pante Raja, di pinggir Sungai Terbangan, bersebelahan dengan Kuta Tuha di Ladang Tuha.

Di bawah pemerintahannya, Terbangan berkembang pesat. Lada hitam menjadi komoditas utama. Kebun-kebun lada membentang dari kaki gunung hingga pesisir pantai. Nama Terbangan dikenal oleh pedagang dari Malaka, Gujarat, hingga Portugis di seberang lautan.

Benteng pertahanan atau Madat, yang dulu menjadi pusat kekuatan kerajaan, terletak di dekat pantai Pante Raja, menjadi saksi strategi dagang dan pertahanan rakyat Terbangan di masa itu.

Sidang di Hulu Sungai

Suatu siang yang terik, seorang pemuda bernama Hasyim membuat kegaduhan. Ia memukul anak tetangga tanpa alasan jelas. Dalam masyarakat yang menjunjung tinggi adat dan keadilan, tindakan itu tak bisa dibiarkan.

Maka rakyat berkumpul di tepi hulu sungai, tempat biasa sidang adat digelar. Di bawah pohon besar, Ratu Cutma Fatimah duduk dengan tenang, didampingi para dayangnya.

“Hasyim, kami tak menginginkan rakyat saling menyakiti,” ucap Sang Ratu dengan suara lantang namun penuh kelembutan. “Namun hukum harus ditegakkan agar yang lain mengambil pelajaran.”

Hasyim pun dijatuhi hukuman disandra di tepi sungai, sebagai bentuk peringatan adat. Sejak saat itu, tak ada lagi yang berani bertindak semena-mena di Terbangan.

Jambo Madat dan Kapal Portugis

Suatu hari, datanglah serombongan saudagar Portugis dengan kapal besar, membelah gelombang Samudera Hindia. Mereka membawa barang-barang dagangan, perhiasan, dan kain mewah untuk ditukar dengan lada terbaik Terbangan.

Ratu Cutma Fatimah menerima mereka di Jambo Madat, ditemani para dayangnya: Dayang Syarifah, Dayang Maisyitah, Dayang Maisarah, hingga Dayang Aminah.

Dengan bahasa campuran Melayu dan isyarat dagang, perundingan berjalan lancar. Para saudagar itu takjub dengan kecerdasan perempuan Aceh yang memimpin kerajaan pesisir ini.

“Seorang ratu yang lebih bijaksana dari banyak raja lelaki,” bisik salah satu saudagar Portugis kepada rekannya.

Begitulah, Terbangan terus makmur, menjadi titik persinggahan penting dalam jalur perdagangan internasional.

Ombak yang Menghapus Jejak

Namun masa kejayaan itu tak abadi. Kedatangan Belanda perlahan menggerogoti ketenangan Terbangan. Rakyat mulai ketakutan. Perdagangan lada meredup. Keberanian rakyat diuji.

Meski begitu, Ratu Cutma Fatimah tetap berdiri tegak. Ia menguatkan rakyat, menenangkan perempuan dan anak-anak, serta tetap menjalankan hukum adat di tengah ancaman kolonial.

Setelah bertahun-tahun memimpin dengan adil, Cutma Fatimah wafat. Awalnya, makamnya berada di dekat Sungai Terbangan, tempat favoritnya menatap lautan lepas.

Namun, karena ancaman abrasi dan gelombang pasang, pihak keluarga kemudian memindahkan makam Sang Ratu ke kaki Gunung Terbang dan Gunung Manyang di kawasan Pantai Ladang Tuha.

Kini, di sana terdapat tiga makam bersejarah:
‌Kuburan Teuku Raja Bintang
‌Kuburan Tgk Padang Keureuma
‌Kuburan Cutma Fatimah

Ketiga makam ini menjadi jejak sejarah penting di kawasan Terbangan.

Warisan yang Hidup dalam Nama

Kini, setiap kali angin laut bertiup di Terbangan, orang-orang tua bercerita tentang Raja Inong, tentang ladang lada, tentang Jambo Madat, dan tentang keadilan di tepi sungai.

Sebagai bentuk penghormatan, nama Cutma Fatimah diabadikan dalam dunia pendidikan. SMA Negeri 1 Pasie Raja, yang dulunya dikenal sebagai SMU Swasta Cutma Fatimah, menjadi simbol penerus semangat beliau.

Bagi generasi muda, cerita tentang Ratu Pertama Pasie Raja bukan sekadar dongeng, melainkan jejak sejarah yang hidup dalam denyut nadi masyarakat Terbangan hingga hari ini.

Penulis: Ilham Mirsal, MA
Alamat: Warga Ujung Batee (Terbangan Cut), Kemukiman Terbangan, Kecamatan Pasie Raja, Aceh Selatan.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x
x