Umar Bin Khattab : Pedang yang Jatuh, Hati yang Hancur

Redaksi
6 Jan 2026 07:20
News Tarikh 0 162
3 menit membaca

Hari itu Madinah tidak seperti biasanya. Langit tetap biru,matahari tetap terbit.Namun,bagi Umar bin Khatab,dunia telah runtuh seluruhnya. Kabar itu beredar cepat: Rasulullah telah wafat. Umar tidak mampu menerimanya.

Ia berdiri di Masjid Nabawi dengan pedang terhunus. Suaranya menggema,keras,gemetar,penuh luka yang belum sempat ia pahami.

“Barang siapa mengatakan Muhammad telah wafat,” teriaknya, “akan kupenggal kepalanya!, Beliau hanya pergi seperti Muda pergi menemui Rabb-nya dan beliau akan kembali!”

banner 350x350

Itu bukan kemarahan.Itu adalah penolakan hati yang terlalu mencintai. Umar,lelaki yang paling tegar di medan perang,hari itu tidak sanggup berdiri di hadapan kehilangan. Para sahabat terdiam. Sebagian menangis, sebagian kehilangan suara.

Lalu Abu Bakar ash-shiddiq datang. Ia masuk ke rumah Rasulullah. Membuka kain yang menutupi wajah Nabi Shallahu alaihi wasallam.

Ia menunduk,mencium kening beliau dan berkata dengan suara bergetar namun tegas : “Engkau tetap mulia dalam hidup dan wafatmu, wahai Rasulullah.”

Kemudian Abu Bakar keluar menuju masjid. Umar masih berteriak. Masih menggenggam pedang. Masih berdiri dalam penyangkalan.

Abu Bakar tidak membentaknya. Ia tidak melawannya dengan emosi. Ia hanya membaca ayat Al-Qur’an : ” Muhammad hanyalah seorang Rasul. Sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa Rasul. Apakah jika ia wafat atau dibunuh, kalian akan berbalik ke belakang?” (QS.Ali Imran : 144).

Ayat itu menghantam Umar seperti petir. Ia berkata kemudian : ” Demi Allah,seakan-akan aku belum pernah mendengar ayat itu sebelumnya.”

Pedang itu jatuh dari tangannya.Kakinya lemas. Umar tersungkur ke tanah, ia menangis.

Tangis seorang lelaki yang baru menyadari : bahwa Rasulullah benar-benar telah pergi. Hari-hari setelah itu adalah hari-hari paling sunyi bagi Umar.

Ia masih shalat. Masih berjuang. Masih berdakwah,namun ada satu suara yang hilang dari hidupnya : suara Rasulullah.

Setiap kali Umar hendak memutuskan sesuatu,ia terdiam. Ia bertanya dalam hatinya : ” Bagaimana jika Rasulullah berada di sini?, ” Apa yang akan beliau katakan? ” Apakah beliau ridha dengan keputusanku?”

Suatu hari, Umar berdiri di dekat mimbar Rasulullah. Ia memandang tempat itu lama. Matanya basah,ia berkata lirih : ” Wahai Rasulullah,engkau telah meninggalkan kami,namun ajaranmu masih hidup diantara kami.

Umat hidup setelah Rasulullah wafat,namun hatinya tertinggal di masa ketika Nabi masih berjalan di Madinah. Ketika Umar menjadi khalifah,tanggung jawabnya berlipat. Namun rasa takutnya pun berlipat.

Ia sering menangis di malam hari. Ia memikul gandum di punggungnyan sendiri. Ia berkata ” Bagaimana aku akan menghadap Allah,jika ada satu saja rakyat Muhammad yang kelaparan?”

Suatu ketila,Umar berdiri di makam Rasulullah. Ia menunduk lama,lalu berkata : Wahai Rasulullah, ketika engkau masih hidup,aku adalah pengikutmu. Hari ini, aku hanyalah penjaga amanahmu.”

Umar tidak pernah menganggap dirinya besar. Ia hanya merasa ditinggal oleh orang yang paling ia cintai.

Rasulullah pernah bersabda tentang Umar : ” Aku bermimpi berada di surga,lalu aku melihat sebuah istana. Aku bertanya,’ Untuk siapa ini?’ Merela menjawab, ‘Untuk Umar bin Khattab” (HR.Bukhari dan Muslim).

Ketika Umar mendengar hadis itu ,ia menangis dan berkata : ” Bagaimana mungkin aku merasa aman, sementara hisab masih menantiku?.[Red]

 

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x
x