Foto : IlustrasiNamanya Umar bin Sa’ad Radhiallahu Anha. Ia bukan bangsawan Quraisy. Bukan pula orang kaya. Ia hanya seorang sahabat Nabi Shallahu Alaihi Wasallam yang hatinya penuh rasa takut kepada Allah.
Ketika Amanah Itu Datang
Suatu hari,Umar bin Khattab memanggil Umair. ” Wahai Umair,” kata Umar,” aku mengangkatmu sebagai Gubernur di wilayah Hims.”
Tubuh Umair bergetar. Bukan karena bangga, bukan karena senang,tapi karena takut. ” Wahai Amirul Mukminin, aku takut tidak mampu berlaku adil.”
Namun Umar berkata tegas, ” Umat ini butuh orang sepertimu.” Akhirnya Umair menerima amanah itu dengan air mata,bukan senyuman.
Berangkat Tanpa Pengawalan
Tak ada kuda mewah, tak ada iring-iringan. Umair berjalan sendirian,hanya membawa sepotong roti kering,kantong air dan tongkat kayu. Orang-orang heran,”Benarkah itu gubernur kami?” Ya, itulah Umair bin Sa’ad.
Kehidupan Sang Gubernur
Di Hims ia hidup seperti rakyat. Rumahnya kecil,pakaiannya kasar, makanannya sederhana. Ia tidak mengumpulkan harta,tidak memperkaya keluarga dan tidak memanfaatkan jabatan.
Jika ada kelebihan makanan, ia memberikannya pada fakir miskin. Ia sering berkata : “Bagaimana aku bisa kenyang, sementara rakyatku lapar?”
Satu Tahun Berlalu
Setahun kemudian,Umar bin Khattab gelisah. Tidak ada laporan,tak ada kiriman pajak, tak ada utusan. “Apakah Umair berkhianat?” tanya Umar dalam hati. Akhirnya ia memanggil Umair ke Madinah.
Kepulangan yang Menggetarkan
Umair datang dengan berjalan kaki. Pakaiannya masih sama.Tubuhnya kurus,wajahnya pucat. Umar terkejut,dimana harta negara?” tanya Umar
Umair menjawab tenang : “Aku serahkan semua kepada yang berhak.” Lalu apa yang kau bawa untuk dirimu,” tanya Umar balik. Umair mengangkat kantong kecilnya. “Ini,pakaian,makanan,dan tongkatku.” Tak lebih jawab Umair.
Tangisan Umar bin Khattab
Umar tak mampu menahan air mata. Ia berkata : ” Semoga Allah merahmatimu wahai Umair. Dunia tak mampu menipumu.
Umar ingin memberi Umair hadiah uang dan harta,namun Umair menolak. ” Aku tak butuh itu,aku hanya ingin selamat saat berdiri di hadapan Allah.”
Akhir Kehidupan yang Sunyi
Umair bin Sa’ada wafat dalam keadaan miskin,tanpa warisan dunia. Namun namanya kaya dilangit. Ia pergi tanpa harta ,tapi membawa amanah yang bersih.[Red]
Tidak ada komentar