Tragedi Pilu 3 Provinsi di Sumatra : Sebuah Catatan Akhir Tahun 2025

Admin
3 Des 2025 14:03
News Opini 0 18
3 menit membaca

Oleh : Dr. Masrizal, S.Sos.I., M.A ( Sosiolog/ Koordinator Prodi Magister Damai dan Resolusi Konflik Sekolah Pascasarjana USK)

 

Pekan akhir November 2025, menjadi kisah pilu untuk tiga provinsi di Sumatera, yakni Provinsi Aceh, Provinsi Sumatra Utara dan Sumatra Barat.Tidak terasa sudah menjelang sepekan musibah banjir bandang yang melanda 3 Provinsi ini telah membuat kisah pilu pada warganya yang tak kunjung reda.

Hari-hari yang dilalui seakan terus menyelimuti akan penderitaan yang dialami warganya. Media sosial melalui WA grup IG dan FB juga media sosial lainnya terus menyiarkan berita tentang bencana 3 Provinsi ini.

Khususnya di Provinsi Aceh,pulau Sumatra bagian utara ini, kini telah menyisakan berbagai problema yang sekarang dihadapi masyarakat nya, sejak dari kehilangan anggota keluarganya, akses kebutuhan pokok yang sudah terputus, BBM langka, harga yang melonjak disetiap enceran, hingga membuat antrian panjang di setiap SPBU. GAS juga menghilang dari peredarannya.

Seakan kisah pilu ini menampakkan bahwa Negara seakan belum sepenuhnya hadir akan penderitaan yang menerpa warganya. Keluh kesah warga terus disuarakan melalui dunia maya, agar kabar ini sampai dengan utuh ke pemangku kepentingan Negara ini.

Meninjau ke tempo dulu, suasana pilu ini juga pernah dirasakan oleh para sahabat Nabi saat itu, bahkan apa yang terjadi sekarang ini hampir memiliki kesamaanya.

Berikut kutipan hadisnya” artinya: “Suatu ketika terjadi krisis di zaman Rasulullah SAW. Kemudian para sahabat meminta kepadanya agar menetapkan harga-harga barang: “Hendaknya engkau tetapkan harga barang?” Beliau menjawab: “Sesungguhnya Allah swt Dzat Yang Maha Mengendalikan, Maha Memberi Rezeki, Maha Pemberi Rezeki, dan Maha Penentu Harga.

Sesungguhnya aku pastilah berharap kelak bertemu Allah swt dalam kondisi tak ada seorang pun menuntutku atas suatu kezaliman yang aku perbuat berkaitan dengan darah dan juga tidak dengan harta.” (HR Imam Lima selain an-Nasai dan dishahihkan oleh at-Tirmidzi).

Namun dalam kacamata sosiologis, beberapa sosiolog juga memiliki pandangan sama.Ulrich Beck misalnya , Sosiolog Jerman yang membahas tentang masyarakat risiko, yang menjelaskan bagaimana modernisasi dan industrialisasi dapat meningkatkan risiko bencana seperti banjir.

Begitu juga Robert Bullard, sosiolog Amerika yang membahas tentang keadilan lingkungan, yang menjelaskan bagaimana bencana seperti banjir dapat mempengaruhi masyarakat marginal dan meningkatkan ketimpangan sosial.

Hal senada diungkapkan Robert E. Park, sosiolog Amerika yang mengembangkan teori ekologi manusia, yang menjelaskan bagaimana interaksi manusia dengan lingkungan dapat mempengaruhi terjadinya bencana seperti banjir.

Ia spesifik membahas tentang bagaimana faktor-faktor sosial, ekonomi, dan lingkungan dapat mempengaruhi terjadinya banjir sehingga dibutuhkan kemampuan bagaimana masyarakat dapat beradaptasi dan mengurangi risiko bencana.

Para Sosiolog di atas menjelaskan betapa pentingnya negara memberikan edukasi terhadap warga negaranya, termasuk terhadap pihak perusahaan, sehingga  disaat musibah melanda konektivitas lintas sektor menjadi hal yang harus diutamakan dalam mencari problem solver ( pemecahan masalah).

Namun,tentu hal tersebut bukan lah satu-satunya jalan yang harus ditempuh, karena kehidupan ini harus terus berjalan meskipun dengan terseok-seok karena goal akhir di kehidupan ini adalah terwujudnya masyarakat yang baldatun thaiyyibatun warabbul ghafur asyarakat yang merasakan kedamaian dalam makna kesejahteraan).

Semoga kisah pilu ini menjadi sebuah pembelajaran berharga untuk warga negara juga pemimpinnya serta para pelaku bisnis. Semoga opini singkat ini menjadi sebuah catatan pilu yang tak pernah terlupakan.

Terima kasih pak Presiden Prabowo untuk menetapkan Provinsi Aceh, Sumatra Utara dan Sumatra Barat sebagai Darurat Bencana Nasional.

Salam sehat selalu pak Presiden, InsyaAllah Indonesia akan menjadi Negara yang terus menuju kemakmuran, karena disetiap musibah akan ada hikmah yang lebih besar yang Allah SWT berikan, Amin.[]

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x
x