Terkait Keracunan MBG di Pasie Raja, Ini Kata Ketua Yayasan Ruang Kito Basamo

Redaksi
27 Feb 2026 21:48
Daerah News 0 133
3 menit membaca

ASPIRATIF.ID — Ketua Yayasan Ruang Kito Basamo, Andika Saputra, meminta publik tidak terburu-buru menyimpulkan insiden yang menimpa 18 siswa di Kecamatan Pasie Raja sebagai keracunan akibat program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Ia menegaskan, penyebab pasti kejadian tersebut masih menunggu hasil uji laboratorium dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) atau Labkesda.

“Penyebutan keracunan MBG pada tahap ini menurut kami masih terlalu dini. Kami memahami kekhawatiran masyarakat, tetapi kesimpulan harus didasarkan pada hasil pemeriksaan ilmiah,” ujar Andika dalam keterangan tertulis, Jumat (27/2/2026).

banner 350x350

Sebagaimana diberitakan, sebanyak 18 siswa dilaporkan mengalami gejala gangguan kesehatan setelah mengonsumsi menu MBG dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Ujung Padang Asahan, Kecamatan Pasie Raja. Para siswa sempat menjalani perawatan medis di fasilitas kesehatan setempat.

Andika mengemukakan, secara keseluruhan jumlah penerima manfaat MBG yang dikelola SPPG Ujung Padang Asahan mencapai sekitar 3.710 siswa. Dari jumlah tersebut, yang dilaporkan mengalami gejala sebanyak 18 orang.

“Secara proporsi, angka tersebut tentu perlu dikaji secara objektif dan ilmiah. Apakah realistis jika langsung disimpulkan sebagai keracunan massal akibat satu sumber makanan, sementara ribuan lainnya tidak mengalami gejala serupa? Ini yang harus dibuktikan melalui uji laboratorium,” katanya.

Lebih lanjut Andika mengatakan, pihak Yayasan tidak mengabaikan insiden tersebut. Sebab, sejak menerima laporan, pengelola langsung berkoordinasi dengan tenaga kesehatan dan memastikan para siswa mendapatkan penanganan medis.

“Kami segera memastikan seluruh siswa mendapat perawatan yang cepat dan layak. Kami juga turun langsung menjenguk mereka. Keselamatan dan kesehatan anak-anak tetap menjadi prioritas utama,” ujar Andika.

Menurut dia, gejala seperti mual, muntah, dan reaksi alergi dapat dipicu oleh berbagai faktor, termasuk kondisi individu maupun faktor lain di luar proses produksi makanan. Karena itu, ia meminta semua pihak menunggu hasil uji laboratorium BPOM sebagai dasar penentuan penyebab.

“Hasil uji tersebut akan menjadi rujukan ilmiah untuk memastikan apakah terjadi kontaminasi pangan, reaksi alergi tertentu, atau faktor lain. Kami berharap masyarakat dapat bersabar menunggu hasil resmi,” ucapnya.

Andika menambahkan, dapur SPPG selama ini menerapkan standar operasional prosedur dalam pengelolaan makanan, mulai dari pengadaan bahan baku, penyimpanan, pengolahan, hingga distribusi. Meski demikian, evaluasi internal tetap dilakukan untuk memastikan tidak ada celah dalam sistem pengawasan.

Sementara itu, Kepala SPPG Ujung Padang Asahan, Isful, menjelaskan bahwa aspek legalitas dan sarana penunjang dapur juga tengah dalam proses pemenuhan administrasi.

“Untuk Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS), saat ini sedang dalam tahap verifikasi oleh instansi terkait. Adapun instalasi pengolahan air limbah (IPAL) juga sudah dalam tahap pemesanan sebagai bagian dari peningkatan fasilitas,” ujar Isful.

Ia menegaskan, pengelola berkomitmen melengkapi seluruh persyaratan teknis sesuai ketentuan yang berlaku.

“Jika nantinya ditemukan kekurangan, tentu akan menjadi bahan evaluasi serius dan perbaikan menyeluruh. Kami berkomitmen bersikap terbuka dan kooperatif dalam setiap proses investigasi,” kata Andika menambahkan.

Pihak yayasan berharap program MBG yang bertujuan meningkatkan kualitas gizi anak-anak tetap berjalan dengan pengawasan yang semakin diperketat, seraya menunggu hasil pemeriksaan laboratorium sebagai dasar penentuan langkah selanjutnya.[]

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x
x