Setelah Ali Khamenei Pergi

Redaksi
2 Mar 2026 07:54
News Opini 0 426
8 menit membaca

WAJAH politik Iran dan Timur Tengah pada hari Minggu, 1 Maret 2026, ternyata sudah tidak sama lagi dengan hari-hari sebelumnya.

Pasalnya, tepat pada Sabtu, 28 Februari 2026, serangan presisi Amerika Serikat dan Israel ke Teheran berhasil mengakhiri perjalanan panjang arsitek utama perlawanan terhadap hegemoni Barat di kawasan ini, yakni Ayatollah Ali Khamenei.

Sebagaimana telah disaksikan, langit Teheran yang biasanya diselimuti polusi, siang itu dikoyak oleh raungan jet tempur siluman dan dentuman rudal jelajah dalam operasi berskala masif.

banner 350x350

Operasi yang diberi sandi Epic Fury oleh Pentagon dan Roaring Lion oleh Pasukan Pertahanan Israel (IDF) memang bukan invasi darat konvensional dan ternyata memang tidak dimaksudkan demikian.

Amerika Serikat dan Israel tampaknya telah membuang jauh-jauh buku panduan perang Irak 2003 yang sangat melelahkan.

Amerika, bersama Israel, kini justru mulai mengadopsi cetak biru yang jauh lebih klinis, yakni model “dekapitasi pimpinan” yang sebelumnya diuji coba dalam operasi terhadap rezim Venezuela awal tahun 2026 ini.

Strategi baru ini bukan lagi tentang bagaimana menghancurkan seluruh tentara lawan di perbatasan, tapi tentang memenggal “kepala ular” dalam satu serangan tunggal yang dikalkulasikan akan melumpuhkan seluruh sistem saraf pusat kekuasaan negara.

Serangan dimulai tepat setelah matahari terbit, waktu yang dipilih secara sengaja untuk menangkap momen ketika para elite pengambil kebijakan Iran sedang berkumpul di pusat kota setelah subuh.

Operasi ini melibatkan koordinasi yang luar biasa antara jet siluman F-35, pembom strategis B-2 Spirit, dan penggunaan masif drone serang sekali pakai generasi terbaru yang dijuluki LUCAS, sebuah sistem yang ironisnya meniru teknologi drone Shahed milik Iran sendiri.

Target utamanya sangat spesifik sekaligus berlapis. Gelombang pertama serangan difokuskan untuk mematikan mata dan telinga pertahanan udara Iran, termasuk sistem rudal S-400 yang baru saja digelar.

Setelah langit dianggap bersih, fokus beralih ke fasilitas pengayaan uranium di Natanz dan Fordow, serta pangkalan rudal balistik di Karaj dan Isfahan.

Namun, target utama dari seluruh serangan tersebut adalah kompleks kediaman dan kantor Pemimpin Tertinggi di distrik pusat Teheran, Pasteur.

Setidaknya 30 bom presisi tinggi menghujani target tersebut dalam hitungan menit. Citra satelit yang dirilis oleh Airbus DS beberapa jam kemudian menunjukkan pemandangan yang cukup jelas, bangunan-bangunan yang selama ini menjadi simbol kekuasaan absolut Khamenei berubah menjadi reruntuhan.

Tak pelak, operasi ini berhasil mencapai dekapitasi strategis yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah modern Timur Tengah. Proses verifikasi kematian Khamenei melewati fase ketegangan yang cukup dinamis di ruang siber dan media internasional.

Selama hampir 24 jam pertama, Teheran mencoba memainkan taktik pengaburan informasi untuk meredam kepanikan.

Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi sempat menegaskan kepada media Barat bahwa Pemimpin Tertinggi dalam kondisi aman, upaya “putus asa” untuk menjaga moral militer yang nampaknya mulai goyah.

Namun, narasi tersebut mulai goyang ketika Presiden Donald Trump melalui media sosialnya menulis dengan nada kemenangan bahwa “salah satu orang paling jahat dalam sejarah telah tiada.”

Kabar ini diperkuat oleh bocoran intelijen Israel yang menunjukkan visual jenazah sang Ayatollah sedang dievakuasi dari reruntuhan.

Dan akhirnya, pada Minggu pagi, stasiun televisi pemerintah IRIB menyiarkan lantunan ayat suci Al-Qur’an dengan latar belakang hitam, kode universal di Iran untuk duka cita nasional yang mendalam.

Pengumuman resmi pun muncul bahwa Ali Khamenei telah mencapai “kesyahidan”. Kabinet Iran segera mengumumkan masa berkabung nasional selama 40 hari dan hari libur publik selama seminggu.

Dan dunia kini harus menghadapi kenyataan bahwa figur yang telah mendominasi politik Iran selama 37 tahun itu telah meninggalkan panggung kekuasaan untuk selamanya, menyisakan vakum kepemimpinan di tengah peperangan yang masih berkecamuk.

Sosok Ali Khamenei adalah paradoks antara keteguhan teologis dan kelincahan politik. Lahir di kota suci Mashhad pada Juli 1939 dari keluarga ulama yang sangat bersahaja, ia tumbuh dalam lingkungan religius yang sangat ketat.

Pendidikannya dimulai sejak usia empat tahun dan memuncak pada studi teologi tingkat lanjut di Qom di bawah bimbingan langsung Ayatollah Khomeini, sang pendiri Republik Islam.

Sejak muda, Khamenei adalah aktivis lapangan yang cukup tangguh. Ia berkali-kali keluar masuk penjara dan merasakan pahitnya siksaan di bawah rezim Shah yang didukung Amerika Serikat.

Luka-luka masa mudanya bukan hanya psikologis, tapi juga fisik, di mana bom yang meledak dalam press conference tahun 1981, membuat tangan kanannya lumpuh secara permanen.

Luka tersebut ia bawa hingga akhir hayat sebagai simbol pengorbanan revolusioner yang ia terus banggakan. Khamenei menjabat sebagai Presiden Iran (1981–1989) selama masa sulit pada Perang Iran-Irak, di mana ia membangun hubungan yang sangat erat dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).

Ketika Khomeini wafat pada 1989, ia terpilih sebagai Pemimpin Tertinggi meskipun sempat menghadapi keraguan dari elite ulama karena kualifikasi religiusnya yang dianggap belum setara dengan gelar Marja pada saat itu.

Namun, ia berhasil mengonsolidasikan kekuasaan, walaupun dengan tangan besi. Hubungan Khamenei dengan Amerika Serikat bisa didefinisikan dengan istilah ideologi anti-Barat yang radikal, tapi sesekali diwarnai oleh pragmatisme taktis.

Ia menjadi pendukung utama krisis sandera 1979, di mana pada 4 November 1979 sekelompok mahasiswa aktivis di Teheran menyandera sebanyak 52 warga AS selama 444 hari.

Tuntutan para penyandera adalah ekstradisi mantan penguasa Iran, Mohammad Reza Pahlavi, yang saat itu berada di AS untuk menjalani perawatan medis.

Peristiwa permusuhan yang terjadi tujuh bulan setelah berdirinya Republik Islam Iran itulah yang memutus hubungan diplomatik kedua negara selamanya.

Namun, Khamenei juga sosok yang pernah memberikan lampu hijau bagi “fleksibilitas heroik” yang memungkinkan tercapainya kesepakatan nuklir JCPOA pada tahun 2015 di bawah Presiden AS Barack Obama.

Selama empat dekade, Khamenei terbilang cukup mahir memainkan peran sebagai negosiator di balik layar sekaligus orator ulung, terutama yang terkait dengan urusan mencaci-maki Barat sebagai “Setan Besar”.

Saya masih ingat bagaimana ia dengan sinis menolak upaya rekonsiliasi Madeleine Albright pada tahun 2000, atau bagaimana ia secara rahasia merespons surat-surat dari Barack Obama dengan kehati-hatian bak seorang pemain catur ulung. Doktrinnya yang terkenal, “No War, No Negotiation,” menjadi kompas politik Iran selama bertahun-tahun.

Ironisnya, menjelang serangan maut 28 Februari 2026, Khamenei sebenarnya sudah mengizinkan timnya kembali ke meja perundingan di Jenewa.

Keputusan itu diambil setelah para penasihatnya memperingatkan bahwa tekanan ekonomi yang semakin parah dan ancaman perang terbuka dapat meruntuhkan legitimasi rezim.

Sayangnya, jendela diplomasi mendadak tertutup selamanya oleh hulu ledak bom dari Amerika Serikat dan Israel yang menghantam kantornya di pusat ibukota Teheran.

Kini, pertanyaan besar yang menghantui Iran, Timur Tengah, dan dunia adalah, seperti apa Iran tanpa Khamenei?

Secara konstitusional, dewan darurat yang terdiri dari Presiden Masoud Pezeshkian dan pimpinan lembaga tinggi lainnya akan menjalankan pemerintahan transisi.

Namun, kekuatan sejati di Iran tidak berada di meja birokrat, tapi di tangan IRGC. Kematian Khamenei yang terjadi di bawah serangan asing justru memberikan alasan kuat bagi Garda Revolusi untuk mengambil alih kendali negara secara total.

Tanpa otoritas spiritual Khamenei yang selama ini bertindak sebagai penyeimbang, IRGC kemungkinan besar akan mendorong Iran menuju model “Garrison State” atau negara garnisun yang jauh lebih agresif.

Ada kemungkinan dunia akan mernyaksikan bangkitnya junta militer-teokratis yang akan mempercepat program nuklir dan rudal Iran sebagai satu-satunya cara untuk menjamin kelangsungan hidup rezim dari ancaman dekapitasi serupa di masa depan.

Imbas geopolitik dari kematian Khamenei juga mengguncang dua kekuatan besar dunia, yakni China dan Rusia. Bagi Kremlin, selama ini Iran bukan hanya sekutu ideologis Anti-Barat, tapi pemasok vital bagi kampanye militer Putin di Ukraina.

Kehilangan Khamenei berarti ketidakpastian bagi rantai pasok drone Shahed dan rudal balistik yang selama ini menopang daya gempur Rusia.

Tak heran mengapa Moskow sangat mengecam keras serangan ini sebagai “Pandora’s Box” yang akan memicu ketidakstabilan global.

Bagi Presiden Putin, melemahnya Iran akan menjadi ancaman langsung terhadap keseimbangan kekuatan yang mereka bangun untuk melawan dominasi NATO.

Rusia khawatir bahwa kekacauan di Teheran akan memutus koridor logistik strategis Rusia di Timur Tengah.

Diakui atau tidak oleh Kremlin, yang jelas Moskow kini terjebak dalam dilema apakah akan mengintervensi secara aktif untuk menstabilkan faksi IRGC atau membiarkan Teheran tenggelam dalam krisis suksesi yang berkepanjangan.

Sementara itu, bagi China, sebagaimana telah sama-sama diketahui bahwa Iran adalah mitra energi yang sangat krusial dan simpul penting dalam inisiatif Belt and Road (BRI).

Sehingga sangat wajar jika Beijing memandang serangan ini sebagai langkah sembrono dari Washington yang bisa melumpuhkan pasokan energi global.

China adalah pelanggan minyak terbesar Iran, dan stabilitas Teheran sangat penting untuk mengatasi “Dilema Malaka” yang menghantui keamanan energi Beijing.

Tak berbeda dengan Rusia, Beijing pun kini diliputi kecemasan bahwa rezim IRGC yang lebih radikal pasca-Khamenei akan menutup Selat Hormuz sebagai bentuk retaliasi, yang pada gilirannya akan memicu krisis ekonomi di daratan China.

Dengan kata lain, China dan Rusia kemungkinan besar akan berkoordinasi untuk memastikan bahwa pengganti Khamenei tetap berada dalam orbit mereka, sekaligus berusaha mencegah agar Iran tidak jatuh ke tangan pemerintahan yang pro-Barat.

Secara domestik, kita tentu tidak bisa juga mengabaikan polarisasi yang terjadi di jalanan Iran saat ini. Di satu sisi, media pemerintah menyiarkan gambar kerumunan massa yang menangis meratapi sang pemimpin.

Namun, laporan dari lapangan menunjukkan narasi yang berbeda. Terdapat suara siulan, tepuk tangan, dan musik perayaan yang terdengar dari jendela-jendela rumah di Teheran sebagai bentuk kegembiraan spontan dari rakyat yang merasa beban tirani puluhan tahun telah terangkat.

Dan di sisi yang lain, tidak dapat juga diingkari bahwa Amerika Serikat dan Israel kini sedang berdiri di puncak kemenangan taktis, sekaligus juga berada di tepi jurang risiko strategis yang tak bisa dipandang sebelah mata.

Presiden Donald Trump telah memberi sinyal bahwa serangan akan terus berlanjut hingga kemampuan nuklir Iran benar-benar musnah.

Namun, sejarah sering mengajarkan bahwa kekosongan kekuasaan di negara sekuat Iran lebih sering berujung pada kekacauan berdarah ketimbang demokrasi yang damai.

Untuk itu, ke depan kita akan menunggu dan melihat apakah 40 hari masa berkabung di negera Mullah ini akan menjadi fajar bagi Iran yang baru atau justru menjadi awal dari kebakaran besar yang akan melalap seluruh kawasan.

Kematian Ali Khamenei adalah akhir dari babak panjang sejarah Persia yang dimulai dari revolusi 1979. Namun “hantu” dari sistem yang telah ia bangun akan terus membayangi kestabilan internasional untuk waktu-waktu mendatang.[]

Penulis : Jannus TH Siahaan (Doktor Sosiologi Unveritas Padjadjaran)

Sumber : Kompas. Com

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x
x