Sejarah Lailatul Qadar: Malam Kemuliaan yang Lebih Baik dari Seribu Bulan

Redaksi
10 Mar 2026 13:43
3 menit membaca

ASPIRATIF.ID — Bagi umat Islam, bulan Ramadhan selalu membawa momen paling istimewa, yaitu Lailatul Qadar atau Malam Kemuliaan.

Malam ini disebut sebagai waktu turunnya Al Quran secara keseluruhan dari Lauhul Mahfudz ke Baitul Izzah (langit dunia), sebelum akhirnya disampaikan secara bertahap oleh Malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad SAW selama 23 tahun.

Keistimewaan malam ini diabadikan dalam Al Quran surat Al-Qadr ayat 1-5: “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Quran) pada malam Qadar.

banner 350x350

Dan tahukah kamu apakah malam Qadar itu? Malam Qadar itu lebih baik daripada seribu bulan. Pada malam itu turun para malaikat dan Ruh (Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur semua urusan. Sejahteralah (malam itu) sampai terbit fajar.”

Kapan terjadinya Lailatul Qadar?

Nabi Muhammad SAW tidak pernah menjelaskan secara pasti kapan malam Lailatul Qadar jatuh. Hal ini membuat para ulama berbeda pendapat.

Menurut Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari, terdapat hingga 45 pendapat mengenai waktu malam tersebut.

Namun, pendapat paling kuat dan diterima luas adalah bahwa Lailatul Qadar terjadi pada malam ganjil di 10 hari terakhir Ramadhan, yaitu tanggal 21, 23, 25, 27, dan 29 Ramadhan.

Pendapat Imam Syafi’i menekankan potensi terbesar pada malam 21 dan 23 Ramadhan. Sementara mayoritas ulama, termasuk dari mazhab Hanafi dan Maliki, lebih condong pada malam 27 Ramadhan.

Setiap tahun, waktu pastinya berbeda, sehingga Allah merahasiakannya agar umat Islam bersungguh-sungguh beribadah sepanjang 10 malam terakhir.

Seperti sabda Rasulullah SAW yang diriwayatkan Bukhari dari Aisyah RA: “Carilah Lailatul Qadar itu dalam malam ganjil dari 10 hari terakhir bulan Ramadhan.”

Sejarah dan makna turunnya Al Quran pada malam itu

Lailatul Qadar merupakan fase pertama penurunan Al Quran. Allah SWT menurunkan seluruh isi kitab suci dari Lauhul Mahfudz ke langit dunia pada malam tersebut, sebagai titik awal wahyu.

Kemudian, Malaikat Jibril menyampaikannya secara bertahap kepada Nabi Muhammad SAW, dimulai dari wahyu pertama pada 17 Ramadhan (Nuzulul Quran) di Gua Hira.

Keistimewaan ini juga terkait doa Nabi Muhammad SAW yang mengeluh tentang usia umatnya yang pendek dibanding nabi-nabi sebelumnya.

Melalui surat Al-Qadr, Allah menjanjikan bahwa ibadah pada malam Lailatul Qadar setara dengan pahala seribu bulan atau sekitar 83 tahun 4 bulan (menurut perhitungan Syekh Abdul Halim Mahmud).

Jika seseorang bertemu Ramadhan selama 50 tahun dan memaksimalkan malam-malam ganjil, pahalanya bisa mencapai ribuan tahun ibadah.

Tanda-tanda dan keutamaan malam Lailatul Qadar

Beberapa hadis menyebut tanda-tanda malam ini, seperti keheningan mendalam, cahaya lembut tanpa silau, udara sejuk, semangat ibadah tinggi, perasaan damai, serta matahari terbit dengan cahaya berbeda (tidak terlalu terik).

Keutamaannya luar biasa, pintu ampunan terbuka lebar, doa-doa dikabulkan, dosa-dosa terdahulu diampuni seperti sabda Rasulullah dalam HR Bukhari: “Barangsiapa salat pada malam Lailatul Qadar karena iman dan mengharapkan pahala, diampuni dosa-dosanya yang telah lampau”. Serta turunnya malaikat membawa rahmat dan mengatur takdir.

Amalan yang dianjurkan

Umat Islam dianjurkan memperbanyak ibadah pada 10 malam terakhir Ramadhan, terutama malam ganjil. Amalan utama meliputi salat malam (qiyamul lail), tadarus Al-Quran, dzikir, istigfar, sedekah, dan berbuat baik kepada sesama.

Karena waktu pastinya dirahasiakan, semangat berlomba-lomba dalam kebaikan menjadi kunci untuk meraih kemuliaan malam ini.

Lailatul Qadar bukan sekadar malam biasa, melainkan anugerah Allah yang luar biasa bagi umat Nabi Muhammad SAW.

Dengan memanfaatkannya sebaik mungkin, setiap Muslim berpotensi mendapatkan pahala setara ribuan bulan ibadah. []

 

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x
x