Foto : IlustrasiDi Kerajaan Rimba Selatan, seekor rubah datang dari pinggiran hutan. Ia dulu hanyalah pengikut biasa, diajak oleh seekor Simpanse Muda untuk bergabung dalam barisan pemenangan Raja Harimau pada masa pemilihan raja.
“Bantu saja sedikit,” kata sang Simpanse. “Siapa tahu nanti dapat sisa tulang dari pesta kemenangan.”
Tapi setelah Raja Harimau naik takhta, rubah itu berubah. Ia merasa dialah yang paling berjasa memenangkan kerajaan.
Ia bicara paling lantang di istana, pandai merayu, pandai menjilat, dan cepat sekali membaca arah angin kekuasaan.
Dalam waktu singkat, ia jadi bayangan di belakang singgasana. Ia menasihati raja tentang segala hal, tambang, ladang, bahkan urusan hukum.
Ia menempatkan dirinya di mana-mana,kadang sebagai penasihat pribadi, kadang sebagai anggota tim khusus penanganan konflik hutan, dan suatu hari, tiba-tiba, ia diangkat menjadi Pelaksana Kepala Perusahaan Rimba Selatan.
Namun anehnya, di saat yang sama, rubah itu juga tampil di depan publik sebagai kuasa hukum kerajaan.Padahal semua binatang tahu, dalam kitab hukum rimba jelas tertulis:
“Seekor pejabat kerajaan dilarang menjadi pembela di pengadilan.
Dan pembela hukum dilarang memangku jabatan di istana.”
Tapi siapa berani menegur rubah yang sudah menempel di kaki Raja Harimau?
Hari-hari berlalu, dan bisik-bisik mulai menyebar dari pohon ke pohon.
“Konflik tambang di perbukitan utara,” kata burung hantu, “itu gara-gara ulah rubah.”
“Konflik lahan warga hutan dengan perkebunan pun sama,” timpal kijang tua di tepi sungai. “Katanya dia sendiri yang menyuruh monyet-monyet kecil berdemo ke istana agar terlihat heroik di depan Raja.”
Tapi hasilnya nihil, tak satu pun persoalan benar-benar selesai yang dijalankan si rubah.
Lalu, kabar baru datang dari lubuk rimba bahwa rubah itu kini berambisi menjadi Kepala Perusahaan Rimba secara definitif.
Bukan hanya itu, ia juga dikabarkan hendak menempatkan saudara kandungnya sebagai Kepala Dinas Desa Rimba, agar lebih mudah mengalihkan dana ketahanan pangan desa sebagai modal perusahaan.
Namun kelicikannya tak berhenti di situ. Ketika muncul isu tentang permaisuri Raja Harimau yang terseret dalam program desa bermasalah, rubah itu segera tampil di media hutan sebagai pembela istana, seolah-olah dialah pelindung kehormatan kerajaan.
Padahal, burung-burung yang mengintai dari ranting atas tahu, media yang menyorot permaisuri itu pun dikuasai oleh kelompok yang dulu dekat dengan rubah itu sendiri.
Semuanya tampak seperti sandiwara yang sempurna,Rubah menyalakan api, lalu datang membawa air, dan berdiri gagah di depan Raja untuk menerima pujian.
Kini, di seluruh penjuru rimba, hewan-hewan mulai berbisik lirih.
Mereka tahu, kerajaan sedang dikendalikan dari balik bayangan, bukan oleh kuku Raja, tapi oleh lidah seekor rubah yang terlalu lihai.
Ia mengatur, menulis, dan menghapus nama dalam surat keputusan kerajaan sesuai seleranya.
Namun hukum alam tak pernah berpihak pada licik yang tamak.
Semakin tinggi rubah memanjat pohon kekuasaan, semakin jelas ekornya terlihat dari bawah.
Dan di suatu malam, di bawah cahaya bulan penuh, burung hantu terbang mengelilingi istana, berbisik kepada penghuni hutan:
“Waspadalah pada rubah yang pandai menjilat.Ia bukan sedang melindungi raja,Ia sedang membangun jalannya sendiri menuju singgasana.”.[Red]
Notes : Cerpen ini hanya cerita fiksi, apabila ada kesamaan nama, tokoh, karakter, waktu dan tempat kami mohon maaf
Tidak ada komentar