Rasulullah dan Wanita Buta yang Membencinya

Redaksi
13 Jan 2026 06:45
News 0 103
2 menit membaca

Di sudut pasar kecil Madinah, setiap pagi ada seorang wanita tua,buta dan renta. Suaranya serak,namun menusuk hati siapapun yang mendengarnya.

“Jangan dekati Muhammad itu!” serunya berkali-kali. ” Ia pembohong! Ia pemecah belah! Ia menyesatkan!”

Ia tak melihat siapa pun yang lewat,tapi setiap orang tahu : wanita itu sangat membenci Rasulullah. Ia membenci tanpa  pernah melihat beliau sekalipun.

Para sahabat pernah mendengar cacian itu dan sebagian mereka ingin menegurnya. Namum,Rasulullah hanya tersenyum tipis : Beliau berkata,”Biarkan ia. Karena benci tak lahir dari kebencian,sering tumbuh dari ketidaktahuan.”

Pagi demi pagi, setiap fajar sebelum cahaya menyentuh pasir,seorang lelaki datang menghampiri wanita itu,tanpa dikenali. Ia membawa roti,kurma dan makanan lembut agar mudah ditelan.

Dengan tangan penuh kasih,Rasulullah menyuapkan makanan ke mulut wanita itu. Wanita tersebut tidak pernah tahu siapa lelaki itu. Yang ia tahu hanyalah :

“Pemuda itu baik,dia menyuapiku dengan selembut mungkin.”

Padahal,di sela-sela setiap suapan,ia masih memaki Nabi Muhammad. Dan lelaki yang berdiri di hadapannya,yang diam,sabar dan penuh cinta adalah Muhammad sendiri.

Beliau tidak pernah marah,tidak pernah membalas hinaan,tidak pernah meminta balasan. Beliau hanya melayani,membantu dan pergi saat tugasnya selesai, senyap seperti angin yang melintas.

Hari itu Berbeda

Setelah wafatnya Rasulullah,hari-hari pun berlalu. Abu Bakar ash-Shiddiq r.a,sahabat paling dekat, ingin meneruskan semua kebiasaan baik Nabi. Ia bertanya kepada Aisyah radhiayallahu anha : “Adakah amalan Rasulullah yang belum kulakukan?”

Aisyah menjawab : “Ada,setiap pagi beliau pergi ke pasar,memberi makan wanita itu.

Saat Abu Bakar menghampiri,wanita itu menghentikan tangannya. Ia memegang tangan Abu Bakar dengan keras.

“Singkirkan!” katanya tegas.”Suaramu terasa kasar,gerakanmu tak selembut yang kukenal.”

Abu Bakar menangis. “Aku Abu Bakar,aku hanya ingin meneruskan apa yang dilakukan Rasulullah.”

Wanita itu terdiam. ” Rasulullah,” katanya pelan. “Maksudmu,orang yang selalu aku hina itu ,dialah lelaki yang setiap hari menyuapiku, ” Ya, benar jawab Abu Bakar.”

Ketika kesadaran itu menyentuh hatinya,suara wanita itu pecah. Ia menangis,meraba-raba udara tanpa arah,seperti ingin memegang bayangan yang tak lagi ada di hadapannya.

“Hatiku telah menghinanya,hatiku melihat kebaikan,padahal aku mencacinya,”. Langit pun pecah di tengah pasar Madinah.[Red]

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x
x