Politik Bukan Milik Elit: Pelajaran dari Zohran Mamdani untuk Anak Muda Aceh di Pilchiksung

Admin
22 Okt 2025 22:39
News Opini 0 34
3 menit membaca

Oleh: Dr. Lismijar, MA
(Akademisi)

Saat ini, warga Aceh bersiap menyambut satu momen penting dalam demokrasi lokal, Pemilihan Keuchik Langsung (Pilchiksung). Di berbagai gampong, geliat demokrasi mulai terasa. Nama-nama calon keuchik mulai bermunculan. Namun, ada satu pertanyaan besar yang perlu kita renungkan bersama,.di mana peran anak muda dalam kontestasi ini?

Di tengah refleksi itu, kita bisa belajar banyak dari sosok Zohran Mamdani, seorang politisi muda Muslim dari New York City yang kini menjadi simbol kebangkitan politik rakyat biasa.

Mamdani bukan anak pejabat, bukan keturunan elite politik. Ia lahir dari keluarga imigran, tumbuh besar di lingkungan kelas pekerja, dan memulai perjuangannya dari gerakan akar rumput.

Dari New York ke Aceh: Narasi Kepemimpinan dari Pinggiran

Kemenangan Mamdani dalam dunia politik Amerika Serikat adalah gambaran nyata bahwa anak muda dari kelompok pinggiran bisa tampil memimpin.

Ia membawa suara minoritas, kaum tertindas, dan kelas pekerja ke ruang-ruang pengambilan keputusan.

Hal ini relevan dengan kondisi banyak desa di Aceh saat ini, di mana anak muda masih sering dipandang sebelah mata dalam politik gampong.

Dominasi figur-figur lama dan minimnya regenerasi kepemimpinan di tingkat desa menjadi tantangan nyata.

Pilchiksung: Panggung Anak Muda untuk Turun Tangan

Pilchiksung bukan sekadar soal siapa yang terpilih menjadi keuchik. Ini adalah momentum perbaikan tata kelola pemerintahan gampong, di mana anak muda Aceh seharusnya berani tampil, menawarkan gagasan, dan membawa energi baru dalam kepemimpinan lokal.

Belajar dari Zohran Mamdani, ada beberapa pesan penting yang patut direnungkan oleh anak muda Aceh.

Jangan Takut Melawan Status Quo

Seperti Mamdani yang berani menantang kandidat mapan di New York, anak muda Aceh juga harus berani melawan dominasi kelompok-kelompok lama, terutama jika mereka merasa ada stagnasi dalam pembangunan gampong.

Bangun Gerakan Berbasis Komunitas
Mamdani menang karena kekuatan akar rumput. Anak muda Aceh bisa meniru ini dengan membangun dukungan warga dari bawah, melibatkan pemuda, perempuan, tokoh adat, dan kelompok rentan lainnya.

Angkat Isu Rakyat, Bukan Politik Elit

Keuchik bukan sekadar jabatan administratif. Ini adalah posisi strategis untuk menjawab kebutuhan masyarakat desa: air bersih, jalan, pemberdayaan ekonomi, pendidikan anak-anak, hingga transparansi dana desa.

Saatnya Pemuda Aceh Mengukir Sejarah di Gampong Sendiri

Aceh butuh pemimpin muda di tingkat gampong yang punya integritas, visi, dan keberanian seperti Zohran Mamdani. Anak muda Aceh jangan hanya menjadi tim sukses atau penonton. Sudah waktunya mereka menjadi aktor utama dalam perubahan.

Bayangkan, jika tiap gampong melahirkan satu Zohran Mamdani lokal pemuda yang berani bicara untuk rakyat kecil, yang tidak takut berdiri melawan korupsi, dan yang konsisten memperjuangkan hak-hak masyarakat desa.

Demokrasi bukan hanya milik kota besar seperti New York. Demokrasi hidup di gampong-gampong Aceh, di setiap TPS tempat Pilchiksung akan digelar.

Dan seperti Zohran Mamdani yang membuktikan bahwa politik bukan milik elit, kini giliran anak muda Aceh yang membuktikan bahwa masa depan gampong ada di tangan mereka sendiri.[]

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x
x