
ASPIRATIF.ID — Koordinator Gerakan Pemuda Negeri Pala (GerPALA), Fadhli Irman, melontarkan kritik keras terhadap layanan PLN dan Telkomsel di Kecamatan Samadua.
Ia menilai kedua perusahaan layanan publik itu terkesan diskriminatif karena memberikan pelayanan yang timpang antara Samadua dan wilayah Tapaktuan, meski jaraknya berdekatan.
Dalam empat hari terakhir, kata Irman, listrik di Samadua mati total hampir sepanjang hari.
“Empat hari terakhir PLN mati total, termasuk hari ini. Hanya 2 hari lalu listrik hidup sebentar. Sementara di Tapaktuan listrik sering hidup dan jaringan telkomsel aman, beberapa kecamatan lain juga demikian, entah ada apa dengan Samadua. Terkesan sejak lama terjadi diskriminasi, atau jangan-jangan tower telkomsel di Samadua kelengkapannya tidak sesuai standar,” ujarnya dengan nada kesal.
Kondisi ini makin diperburuk dengan lumpuhnya jaringan Telkomsel yang selama beberapa hari hanya hidup beberapa jam. “Selebihnya tanpa jaringan,” tambahnya.
Irman menilai apa yang terjadi bukan sekadar gangguan teknis biasa, tetapi menunjukkan adanya ketidakadilan dalam penanganan layanan publik. Menurutnya, PLN dan Telkomsel semestinya mampu menyediakan solusi darurat yang lebih proporsional, apalagi Samadua merupakan wilayah padat penduduk dan pusat aktivitas masyarakat.
“Selama ini setiap mati listrik lebih dari dua jam maka jaringan Telkomsel di Samadua langsung lumpuh. Ini menunjukkan tidak ada backup memadai. Situasi seperti ini harus menjadi perhatian serius bagi GM PLN Aceh dan GM Telkomsel Aceh dan pusat,” tegasnya.
Ia juga mempertanyakan komitmen dua perusahaan BUMN tersebut dalam memberikan pelayanan yang merata. Irman menyebut, selama bertahun-tahun masyarakat Samadua selalu berada dalam posisi yang dirugikan ketika terjadi gangguan jaringan maupun listrik.
Sementara perbaikan di wilayah lain dilakukan lebih cepat, Samadua kerap menjadi wilayah yang paling akhir mendapat penanganan.
GerPALA mendesak kedua institusi itu membuka penjelasan resmi kepada publik terkait penyebab lumpuhnya layanan selama empat hari, sekaligus menawarkan langkah konkret untuk mencegah kejadian serupa terulang. Menurutnya, masyarakat butuh kepastian, bukan sekadar imbauan untuk bersabar.
“Kalau Tapaktuan bisa hidup, kenapa Samadua tidak? Ini pertanyaan sederhana yang harus dijawab oleh PLN dan Telkomsel. Jangan sampai masyarakat menilai pelayanan pilih kasih,” kata Irman.
Di tengah ketergantungan masyarakat pada listrik dan jaringan internet untuk kebutuhan pendidikan, usaha kecil, hingga layanan darurat, ketimpangan ini menjadi persoalan serius.
“Semoga mampu membuka mata para pemangku kebijakan untuk memperbaiki pelayanan secara menyeluruh, bukan sekadar tambal sulam setiap kali krisis terjadi,” pungkasnya.[]
Tidak ada komentar