Pemimpin Zalim dan Doa yang Tidak Pernah Gagal

Redaksi
23 Des 2025 08:24
News Tarikh 0 303
3 menit membaca

Di Basrah, pernah berdiri sebuah kekuasaan yang dibangun bukan dengan cinta rakyat,melainkan dengan rasa takut. Pemimpinnya dikenal tegas oleh para penjilat,namun dikenal zalim oleh orang-orang kecil.

Pajaknya mencekik.Hukumnya tajam kebawah,tumpul ke atas.Tangisan ibu-ibu yang kehilangan nafkah dan jerit orang miskin yang diperas menjadi suara latar kota itu setiap hari.

Istana berdiri megah.Tetapi di luar gerbangnya,doa-doa orang terzalimi naik ke langit tanpa suara,tanpa upacara.

Suatu malam,seorang lelaki miskin datang ke majelis Hasan Al-Bashri. Tubuhnya kurus,matanya cekung.Bukan karena kurang makan,tetapi karena sering menahan marah dan putus asa.

Ia berkata dengan suara hampir pecah :

“Wahai imam, apakah Allah tidak melihat apa yang dilakukan pemimpin ini? Sampai kapan kezaliman dibiarkan?”.

Hasan al-Bashri menunduk lama.Murid-muridnya melihat air mata jatuh ke janggutnya.Bukan air mata takut,tetapi air mata karena memahami sunnah Allah.

Ia lalu berkata pelan, seakan berbicara pada langit:

“Allah melihat lebih jelas dari pada kita.Tetapi Allah tidak tergesa-gesa.Dia memberi waktu kepada orang zalim bukan karena cinta,tetapi agar hujjah sempurna atasnya,”.

Lelaki itu bertanya lagi,lebih putus asa:

“Lalu apa yang tersisa bagi kami?”

Hasan menjawab;

“Doa.Doa orang yang dizalimi tidak pernah tertolak,meski ia keluar dari hati yang paling lemah,”.

Malam itu, Hasan tidak menghasut pemberontakan.Ia tidak menyeru darah.Ia hanya mengajarkan satu hal yang ditakuti semua tiran, kesabaran yang bersandar pada doa.

Beberapa minggu berlalu.Pemimpin itu jatuh sakit secara tiba-tiba.Bukan sakit biasa,tubuhnya melemah,jiwanya gelisah.

Tabib istana datang silih berganti.Ramuan mahal tidak berguna.Doa doa palsu para penjilat tidak memberi ketenangan.

Di ranjangnya,ia mulai bermimpi buruk.Wajah-wajah orang yang pernah ia zalimi datanf satu persatu.Bukan untuk memukul,tetapi menatap dengan diam.

Dan diam itu lebih menghancurkan daripada teriakan.Dalam ketakutan,ia memerintahkan agar Hasan al-Bashri dipanggil.

Hasan datang.Tidak dengan rasa takut.Tidak pula dengan rasa menang.Pemimpin itu berkata dengan suara gemetar:

“Aku takut,bukan pada kematian,tetapi pada apa yang menungguku setelahnya,”.

Hasan memandangnya lama,llau berkata:

“Ketakutanmu datang terlambat.Engkau takut pada akhir,tetapi engkau tidak takut menzalimi awal kehidupan orang lain,”.

Pemimpin itu menangis.

“Apakah Allah masih akan menerimaku?”

Hasan menjawab dengan kalimat yang menghamtam jiwa.

“Aku tidak tahu urusanmu dengan Allah.Tetapi aku tahu satu hal,Allah tidak akan memaafkanmu selama manusia yang kau zalimi belum kau kembalikan haknya,”.

Tak lama setelah itu, pemimpin itu wafat.

Ia pergi membawa kekuasaan ,tetapi meninggalkan utang doa yang belum lunas.

Hasan berkata kepada murid-muridnya:

“Beginilah Allah menjatuhkan orang zalim.Tidak selalu dengan revolusi.Tidak selalu dengan perang.Kadang hanya dengan doa dari hati yang pernah di hancufkan,”.

Dalam pandangan para sufi,kezaliman bukan sekadar dosa hukum,tetapi racun jiwa.Pemimpin zalim sering terlihat kuat di dunia, namun sesungguhnya ia paling rapuh di hadapan Allah.

Karena satu doa orang terzalimi lebih berat daripada seluruh pasukan istana. Dan jika engkau melihat kezaliman masih berdiri,ketahuilah itu bukan karena doa gagal,tetapi karena waktu Allah belum selesai.[Red]

 

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x
x