Pelajaran Mahal dari Siklon Tropis: Mitigasi Bencana Harus Diperkuat 

Redaksi
3 Des 2025 14:32
Nasional News 0 41
5 menit membaca

ASPIRATIF.ID  – Hingga Rabu (3/12/2025) pagi, korban tewas akibat bencana banjir dan longsor di Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Aceh telah mencapai 753 jiwa, sedangkan 650 orang lainnya masih hilang.

Padahal, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah menyampaikan peringatan dini sejak delapan hari sebelum bencana terjadi. Namun, sayangnya, masih banyak korban yang bergelimpangan.

Menurut BMKG, bencana banjir dan longsor Sumatera ini diakibatkan oleh cuaca ekstrem imbas siklon tropis. Masalahnya, siklon tropis ternyata tidak lazim terjadi di Indonesia, sehingga pemerintah tidak siap dalam menghadapi cuaca ekstrem tersebut.

banner 350x350

Ada pelajaran mahal yang dapat diambil dari siklon tropis yang menjadi katalis banjir Sumatera, yakni pentingnya mitigasi bencana. Dorongan agar mitigasi bencana di Indonesia diperkuat pun kini semakin kencang. Apalagi, sejak lama sudah diketahui bahwa Indonesia memang rawan terjadi bencana.

Dorongan DPR

Ketua Komisi V DPR Lasarus menjelaskan, Indonesia merupakan salah satu negara yang dikepung oleh bencana. Oleh karena itu, pemerintah didesaknya memperkuat kemampuan deteksi dini dan respons di lapangan dalam menghadapi bencana.

Penguatan deteksi dini meliputi peningkatan infrastruktur, alat, hingga kompetensi sumber dalam manusia dalam penanggulangan bencana.

“Indonesia ini dikepung bencana, baik tanah longsor, banjir bandang, gempa, tsunami, dan seterusnya. Ini memerlukan kesiapan kita dengan sarana-prasarana yang memadai,” ujar Lasarus dalam rapat dengar pendapat (RDP) dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas), Senin (1/12/2025).

Ia mencontohkan cuaca ekstrem yang menjadi salah satu pemicu bencana di Aceh, Sumatera Utara (Sumut), dan Sumatera Barat (Sumbar).

Menurutnya, bencana yang terjadi di Sumatera menunjukkan pentingnya peningkatan teknologi deteksi dini di Indonesia. Selain infrastruktur dan peralatan mitigasi, peningkatan kompetensi dari petugas juga krusial dalam proses penanganan bencana di lapangan.

Salah satunya terkait evakuasi yang membutuhkan petugas terlatih, karena setiap detik dalam proses evakuasi sangatlah berharga.

“Golden time ini hanya bisa ditangani oleh orang-orang terampil, orang-orang terlatih dan orang-orang yang mengerti bagaimana cara menyelamatkan orang dalam situasi bencana. Niatnya menolong, kalau ditangani dengan cara salah bisa fatal akibatnya. Ini juga kenapa pelatihan SAR kita pandang perlu,” ujar Lasarus.

Ia sendiri menyadari bahwa faktor geografis dan pola permukiman masyarakat di Indonesia membuat bencana tidak bisa dihindari sepenuhnya.

Namun dengan diperkuatnya sistem peringatan dini, ia yakin jumlah korban maupun kerugian yang besar dapat dihindari.

“Namanya penanggulangan ini, harusnya bukan hanya menanggulangi setelah terjadi bencana. Harusnya juga teman-teman di sana bekerja, melakukan pekerjaan bagaimana supaya bencana itu tidak terjadi di lokasi itu,” ujar Lasarus.

“Ditanggulangi lebih dini, antisipasi. Mengantisipasi dininya juga bagian dari menanggulangi Pak, sebelum terjadi bencana,” sambungnya.

Hal senada juga disampaikan Wakil Ketua Komisi V Ridwan Bae yang menekankan pentingnya sistem deteksi dini dan mitigasi bencana.

“Jika ada kekurangan alat atau sistem, agar segera kementerian terkait menyampaikannya kepada Presiden,” ujar Ridwan.

Selama ini, ia melihat bahwa mitigasi bencana baru dilakukan setelah musibah terjadi dan menimbulkan banyak korban.

Bencana yang terjadi di Aceh, Sumut, dan Sumbar harus menjadi bahan evaluasi pemerintah untuk memikirkan langkah mitigasi sebelum bencana terjadi.

“Setiap hari kita lihat berita longsor, korban sekian orang. Ini menyedihkan. Kita harus berpikir sebelum terjadi, bukan hanya mengatasi setelah kejadian,” ujar Ridwan.

Indonesia tidak siap 

Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani memberi penjelasan kenapa bencana banjir dan longsor yang melanda Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Aceh menimbulkan banyak korban, padahal BMKG sudah memberi peringatan dini sejak 8 hari sebelumnya.

Teuku menjelaskan, Indonesia sejak awal tidak merasa rawan terhadap siklon tropis. Menurutnya, siklon tropis biasa terjadi di negara lain, seperti Filipina, Jepang, Hong Kong, dan Taiwan.

Sehingga, negara-negara yang sering mengalami siklon tropis lebih siap menghadapi bencana yang datang.

 “Mengapa kesiapsiagaannya masih belum optimal? Ini karena begini. Sejak dari kita tumbuh, bahwa kita tidak merasa bahwa Indonesia ini adalah daerah yang rawan terhadap siklon. Itu biasanya terjadi di daerah-daerah di atas 5 derajat Lintang Utara atau 5 derajat Lintang Selatan. Jadi daerah seperti Jepang, Taiwan, Filipina, Hongkong itu daerah siklon,” ujar Teuku Faisal di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (2/12/2025).

“Bahkan di atas utaranya Papua itu terbentuk bibit siklon yang tahunan itu, bergerak melintasi Filipina berhenti di Laut Cina Selatan. Itu lebih dari 10 kali setahun. Mereka lebih siap,” sambungnya.

Teuku menegaskan, Indonesia tidak siap menghadapi siklon tropis karena itu bukanlah kejadian yang lazim. Dengan begitu, ketika ada bencana dengan eskalasi besar imbas siklon tropis, Indonesia belum siap.

“Kita siklon tropis itu bukan kejadian yang lazim, karena kita berada tidak lebih dari 5 derajat Lintang Utara atau Selatan. Ini kejadian akibat anomali cuaca dan atmosfer, sehingga terjadilah siklon. Sehingga kita secara prinsip kita juga belum begitu siap menghadapi bencana dengan eskalasi sebesar ini,” papar Teuku Faisal.

Meski begitu, Teuku Faisal menyebut pemerintah telah menyiapkan banyak mitigasi jika berkaitan dengan bencana hidrometeorologi. Dia memastikan pemerintah tetap bersiaga ketika BMKG sudah memberikan informasi perihal siklon tropis.

“Jadi ketika diberi informasi soal siklon, persiapannya cukup banyak, kita menyiapkan semua personel di daerah. Drainase-drainase itu mulai dibersihkan agar siap alirkan air, kemudian semua bersiaga, masyarakat juga siapkan bahan makanan agar ketika terjadi isolasi bisa bertahan lebih lama,” imbuhnya.

BMKG telah sampaikan peringatan dini

Teuku mengatakan, BMKG sudah memberi peringatan dini mengenai cuaca ekstrem di Sumut sejak delapan hari sebelum bencana terjadi. Lalu, untuk di kawasan Aceh dan Sumbar, BMKG sudah memberi peringatan sejak 4 hari sebelum bencana.

“Berikut kami sampaikan analisis dari BMKG terkait dengan cuaca terkini di Provinsi Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat dalam rentang waktu 27 November hingga 4 Desember 2025,” ujar Teuku, Senin.

“Ini kami sampaikan bahwa untuk daerah Aceh dan Sumatera Barat, BMKG telah menerbitkan press release untuk potensi bencana siklon atau cuaca ekstrem di Aceh dan Sumatera Barat. Ini 4 hari sebelum bencana. Untuk Sumatera Utara, press release-nya telah diterbitkan 8 hari sebelum bencana terjadi,” sambungnya.

Teuku menyampaikan, BMKG pusat telah memberi wewenang kepada Kepala Balai Besar BMKG Wilayah I yang membawahi Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, dan Kepulauan Riau untuk menyampaikan peringatan dini.

Menurutnya, ketika peringatan disampaikan, sejumlah kepala daerah memberikan respons positif.

“Ini adalah peringatannya. Beberapa kepala daerah itu langsung memberikan respons positif dengan mengingatkan warganya melalui berbagai kanal. Ini kita sampaikan ke Forkopimda, provinsi, BPBD, semua kami sampaikan. Dan ini terus di-update setiap 2 hari bahwa akan terjadi cuaca ekstrem pada tiga wilayah ini,” imbuh Teuku.

SUMBER : KOMPAS.COM

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x
x