Foto : IlustrasiMadinah malam itu tidak tidur. Angin dingin menyusup diantara parit-parit yang baru digali,membawa bau tanah basah,keringat dan ketakutan.
Di kejauhan,ribuan api unggun musuh berkelip seperti mata-mata setan yang mengintai kota kecil itu. Sepuluh ribu pasukan,datang dari segala penjuru,bersatu untuk satu tujuan,menghabisi Muhammad SAW dan risalahnya.
Kaum muslimin berdiri di tepi kehancuran. Di depan mereka,parit memisahkan iman dan kekafiran. Di belakang mereka, Bani Qurayzah yang dulu bersumpah setia telah merobek perjanjian dan menajamkan belati.
Anak-anak dan perempuan gemetar di rumah-rumah. Hati para lelaki sampai ke tenggorokan. Dan langit seolah menahan nafas.
Allah menggambarkan malam-malam itu dengan firman – Nya :
“Di sanalah orang-orang beriman di uji dan diguncangkan dengan guncangan yang dasyat,”
Di tengah gelap itu, dari kubu musuh,berdirilah seorang lelaki. Namanya Nu’aym bin Mas’ud,seorang bangsawan Ghathafan.
Lidahnya dipercaya,langkahnya dihormati,dan namanya dikenal oleh Quraisy,oleh Qurayzah,dan oleh para pemimpin Ahzab.
Ia datang sebagai musuh. Namun malam itu, hidayah mengetuk dadanya. Tidak ada sorak,tidal ada saksi. Hanya sunyi dan kebenaran dalam hati.
Dengan langkah hati-hati, Nu’aym menyusuri gelap,melintasi parit,hingga berdiri di hadapan Rasulullah,seorang Nabi yang tubuhnya dililit lapar,wajahnya dipenuhi kesabaran,dan matanya menatap langit dengan keyakinan penuh.
“Aku telah beriman,” kata Nu’aym lirih.” Namun kaumku belum tahu. Perintahkan aku wahai Rasulullah.
Nabi menatapnya,tidak dengan pedang,tidak dengan pasukan, melainkan dengan kebijaksanaan yang datang dari wahyu.
Beliau berkata :
“Engkau hanyalah satu orang,jika engkau mampu buatlah siasat untuk kami. Karena sesungguhnya perang itu adalah tipu daya,”
Satu orang, tanpa pasukan,tanpa senjata. Namun,dengan akal,keberanian dan iman, Nu’aym pergi dan menjadi sekutunya.
Ia mendatangi Bani Quraizah,orang-orang yang mengenalnya sejak lama. Ia berbicara sebagai sahabat,sebagai penasehat,sebagai orang yang tampak peduli.
“Wahai Qurayzah,”katanya, “Quraisy dan Ghtathafan bukan penduduk kota ini. Jika mereka kalah,mereka akan pergi. Dan kalian akan berdiri sendirian menghadapi Muhammad,mintalah sandera,tokoh-tokoh mereka agar mereka tidak meninggalkan kalian.”
Benih ragu jatuh ke hati yang sudah rapuh. Lalu ia pergi,seperti bayangan dan mendatangi Quraisy,kepada Abu Sufyan dan para pemuka mereka.
Ia berkata dengan wajah serius : “Bani Qurayzah menyesal.Mereka ingin kembali kepada Muhammad.Mereka akan meminta sandera dari kalian dan menyerahkan kepada Muhammad sebagai tebusan. Jika mereka meminta sandera jangan berikan satupun.”
Kecurigaan pun terbakar. Ia mendatangi Ghathafan, mengulang pesan yang sama,mengikat simpul ketakutan di dada mereka. Dan Nu’aym pergi, tanpa pedang terhunus, tanpa darah tertumpah.
Pagi berikutnya, kebohongan saling memanggil kebenaran. Bani Qurayzah meminta sandera. Quraisy dan Ghathafan menolak. Masing-masing berkata dalam hati : ” Nu’aym benar,”
Kepercayaan runtuh, persatuan retak. Koalisi yang tampak kokoh pecah sebelum satu serangan pun dilancarkan. Dan ketika malam turun kembali,Allah menurunkan tentara yang tidak terlihat.
Angin meraung, tenda-tenda tercabut,Api padam. Unta dan kuda mengamuk,dingin menusuk tulang. Abu Sufyan berdiri di tengah badai dan berteriak : ” Kita bukan di tempat menetap! Sesungguhnya aku pergi!”
Sepuluh ribu pasukan pulang, tanpa kemenangan,tanpa kemuliaan,tanpa hasil.
Di Madinah, fajar menyingsing. Rasulullah, mengangkat suara : ” Allahu Akbar! Telah dikalahkan al -Ahzab!”
Dan diantara sebab kemenangan itu,terdapat nama seorang lelaki yang bekerja dalam senyap , Nu’aym bin Mas’ud.
Ia datang sebagai musuh,ia pulang sebagai sahabat. Dan sejarah mencatatnya sebagai satu orang yang mematahkan koalisi terbesar.
Bukan dengan pedang,melainkan dengan iman yang paling jujur,akal yang tajam dan keberanian untuk berdiri sendirian di malam yang paling senyap.[Red]
Tidak ada komentar