Mut’im Bin ‘Adi : Orang Musyrik yang Jasanya Tidak Pernah Dilupakam Rasulullah 

Redaksi
11 Jan 2026 12:20
News Tarikh 0 115
3 menit membaca

MALAM itu Makkah terasa sempit dari biasanya.Langit tetap sama,Ka’bah tetap berdiri.Namun,bagi Rasulullah,kota kelahirannya telah menutup pintu dengan rapat. Bukan hanya pintu rumah, tetapi pintu perlindungan,pintu kemanusiaan dan pintu belas kasih.

Beliau baru saja kembali dari Thaif. Kota yang diharapkan menjadi tempat dakwah,justru berubah menjadi tempat luka. Batu dilemparkan hingga kaki beliau berdarah. Anak-anak dihasut,orang-orang dewasa menonton tanpa iba.

Dan ketika Rasulullah akhirnya meninggalkan Thaif,yang tersisa hanyalah tubuh yang letih dan hati yang diserahkan sepenuhnya kepada Allah.

Namun luka terbesar belum selesai. Rasulullah tidak bisa masuk kembali ke Makkah tanpa jaminan perlindungan. Dalam tradisi Arab, seseorang yang tidak memiliki pelindung bisa dibunuh tanpa konsekwensi.

Beliau meminta perlindungan kepada beberapa tokoh Quraisy. Satu menolak,yang lain diam. Ada yang berpaling seolah tidak mendengar,hingga nama itu disebut : Mut’im bin ‘Adi.

Ia bukan muslim,ia bukan pengikut Muhammad. Ia adalah tokoh Quraisy yang telah berusia lanjut,terpandang dan masih berada di atas agama kaumnya. Namun,ia memiliki satu hal yang jarang dimiliki manusia berkuasa : rasa adil dan keberanian moral.

Ketika Mut’im mendengar permintaan itu,ia tidak bertanya tentang keuntungan. Tidak meminta imbalan,tidak pula menghitung risiko politik. Ia hanya melakukan apa yang dianggapnya benar.

Mut’im berdiri,ia memanggil anak-anaknya. Mereka mengambil pedang dan busur. Lalu Mut’im berkata dengan tegas : ” Aku akan melindunginya,”

Ia mengumumkan kepada Quraisy bahwa Muhammad berada di bawah jaminannya.Lalu Mut’im mengantar Rasulullah masuk ke Makkah,menuju ka’bah di tengah kepungan senjata anak-anaknya.

Bayangkan pemandangan itu,seorang Nabi yang terluka,diapit oleh keluarga seorang Musyrik,masuk ke kota yang telah mengusirnya.

Quraisy tidak berani menyentuh Rasulullah SAW. Bukan karena iman,tetapi karena kehormatan seorang lelaki tua bernama Mut’im bin ‘Adi. Hari itu,Mut’im tidak masuk islam. Ia hanya menunaikan kewajiban kemanusiaan. Namun, apa yang ia lakukan tidak pernah hilang dari ingatan Rasulullah.

Tahun-tahun berlalu,islam menang di Badar. Tawanan perang Quraisy duduk terikat di hadapan Rasulullah. Mereka adalah orang-orang yang dulu menyakiti,mencaci dan memerangi beliau.

Di saat itulah, Rasululah mengucapkan kalimat yang membuat sejarah terdiam :

“Seandainya Mut’im bin ‘Adi masih hidup, lalu ia memintaku membebaskan para tawanan ini ,pasti akan aku bebaskan.” (HR.Bukhari)

Kalimat itu bukan basa-basi,itu adalah pengakuan seorang Nabi terhadap jasa seorang musyrik. Mut’im telah wafat dalam keadaan tidak beriman. Namun,Rasulullah tidak menghapus kebaikannya.Tidak mencelanya,tidak merendahkannya,tidak mengatakan “ia kafir,jasanya tidak berarti,”tidak.

Rasulullah justru menyebut namanya dengan hormat ,di hadapan para sahabat,di saat beliau berada di puncak kemenangan.Inilah akhlak Nabi,beliau memisahkan antara iman dan keadilan, antara akidah dan jasa manusia.

Mut’im tidak pernah bersyahadat,ia tidak pernah shalat. Ia tidak pernah duduk di majelis Nabi. Namun,sati keberanian di malam gelap itu,menjadikannya nama yang dikenang oleh langit.

Dari kisah Mut’im bin ‘Adi umat ini belajar bahwa : Rasulullah tidak pernah melupakan kebaikan siapapun. Akhlak Nabi melampaui sekat permusuhan. Keadilan tetap dihargai,meski datang dari orang yang berbeda iman.

Dan bahwa islam tidak mengajarkan kita membenci dengan buta,tetapi mengajarkan menghormati kebenaran,dari siapa pun ia datang.

Mut’im bin ‘Adi telah lama wafat. Namanya mungkin tenggelam di antara tokoh-tokoh Quraisy. Namun satu kalimat Rasulullah telah mengangkatnya selamanya.[Red]

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x
x