
Oleh : Tgk. Barmawi (Dewan Guru Dayah Madinatuddiyah Babussa’dah Teupin Gajah)
Pilciksung akhirnya usai. Riuh rendah kampanye, adu gagasan, hingga perbedaan pilihan yang sempat menghangatkan suasana kini telah mencapai titik akhirnya.
Siapa pun yang terpilih, proses demokrasi di lingkungan kita telah berjalan. Namun, yang jauh lebih penting dari sekadar hasil adalah bagaimana kita menyikapi masa setelahnya.
Dalam momentum inilah pesan Al-Qur’an menjadi sangat relevan “واعتصموا بحبل الله جميعا ولا تفرقوا” Sebuah seruan ilahi agar kita kembali berpegang teguh pada tali Allah dan tidak terpecah belah. Ayat ini bukan sekadar nasihat spiritual, melainkan pedoman sosial yang nyata dalam kehidupan bermasyarakat.
Perbedaan pilihan dalam pilciksung adalah sesuatu yang wajar. Setiap individu memiliki sudut pandang, harapan, dan pertimbangan masing-masing.
Namun, perbedaan tersebut tidak semestinya berlanjut menjadi jarak emosional, apalagi konflik yang merusak ukhuwah. Pilihan boleh berbeda, tetapi persaudaraan harus tetap satu.
Pasca pilciksung, tantangan terbesar bukan lagi soal menang atau kalah, melainkan bagaimana semua pihak dapat kembali duduk bersama sebagai satu komunitas.
Jangan sampai proses demokrasi yang sejatinya mendidik justru meninggalkan luka sosial yang berkepanjangan. Di sinilah makna “berpegang pada tali Allah” menjadi kunci: menjadikan nilai keimanan, akhlak, dan persatuan sebagai pegangan utama, bukan ego atau fanatisme kelompok.
Bagi yang terpilih, amanah besar kini berada di pundak mereka. Kemenangan bukanlah akhir perjuangan, melainkan awal dari tanggung jawab untuk merangkul semua pihak, termasuk mereka yang berbeda pilihan.
Kepemimpinan yang baik tidak lahir dari sikap merasa paling benar, tetapi dari kerendahan hati untuk mendengar dan melayani seluruh warga.
Sementara itu, bagi yang belum terpilih dan para pendukungnya, lapang dada adalah sikap yang mulia. Menerima hasil pilciksung dengan dewasa merupakan wujud kedewasaan berorganisasi dan kedalaman iman.
Kritik tetap boleh disampaikan, namun dengan cara yang santun, membangun, dan bertujuan memperbaiki, bukan menjatuhkan.
Persatuan pasca pilciksung bukan berarti menghapus perbedaan pendapat, melainkan mengelolanya dengan bijak. Kita bisa tetap kritis tanpa harus sinis, berbeda tanpa harus bermusuhan.
Justru dari keberagaman pandangan itulah lahir keputusan-keputusan yang lebih matang dan adil, selama semuanya dilandasi niat yang lurus.
Ayat **ولا تفرقوا** (janganlah kamu bercerai-berai) mengingatkan kita bahwa perpecahan adalah awal dari melemahnya kekuatan bersama. Sebaliknya, persatuan adalah sumber keberkahan.
Komunitas yang solid, saling percaya, dan saling mendukung akan jauh lebih mampu menghadapi tantangan ke depan dibandingkan komunitas yang terpecah oleh dendam dan prasangka.
Kini saatnya menutup lembaran kompetisi dan membuka lembaran kolaborasi. Pilciksung telah usai, tetapi perjalanan bersama masih panjang. Mari kita jadikan momen ini sebagai ajang pendewasaan, bukan perpecahan.
Dengan kembali merajut ukhuwah, memperkuat komunikasi, dan saling mendoakan, kita membuktikan bahwa demokrasi dan nilai keislaman dapat berjalan beriringan.
Semoga kita semua mampu mengamalkan pesan Al-Qur’an ini dalam kehidupan nyata: berpegang teguh pada tali Allah, menjaga persatuan, dan melangkah bersama menuju masa depan yang lebih baik.**
Tidak ada komentar