Foto : IlustrasiOleh. Muhammad Syarif
Dosen FAI Universitas Serambi Mekkah Banda Aceh
Di tengah kehidupan kabilah Bani Amir, di Jazirah Arab, hidup seorang pemuda bernama Qays ibn al-Mulawwah. Ia dikenal cerdas, berperasaan halus, dan memiliki bakat besar dalam bersyair.
Sejak usia belia, Qays tumbuh dan belajar bersama seorang gadis bernama Laila binti Mahdi. Dari kebersamaan yang sederhana itu tumbuhlah rasa cinta yang perlahan mengakar,tenang, tulus, dan tanpa pamrih.
Waktu berjalan, dan cinta Qays kepada Laila semakin memenuhi ruang batinnya. Ia menumpahkan perasaan itu dalam bait-bait puisi yang indah, menyebut nama Laila dengan jujur dan terbuka.
Namun dalam adat Arab kala itu, menyebut nama perempuan secara terang-terangan dalam syair cinta dipandang sebagai pelanggaran kehormatan. Puisi-puisi Qays pun tersebar luas, dari satu kabilah ke kabilah lain, hingga sampai ke telinga keluarga Laila.
Ketika Qays datang meminang Laila secara resmi, keluarga Laila menolaknya dengan tegas. Mereka menilai Qays telah mencederai martabat keluarga melalui syair-syairnya. Sejak saat itu, Laila dijauhkan dari Qays, dijaga ketat, dan segala bentuk pertemuan di antara mereka dilarang.
Penolakan tersebut mengguncang jiwa Qays. Ia kehilangan minat pada kehidupan duniawi. Ia meninggalkan rumah, mengembara di padang pasir, hidup dalam kesunyian, ditemani binatang liar, menyebut nama Laila siang dan malam. Keadaannya yang demikian membuat orang-orang menjulukinya “Majnun”, orang yang kehilangan kewarasan karena cinta.
Ayah Majnun berusaha mengobatinya. Ia membawanya menemui tabib, bahkan mengajaknya ke Ka’bah, berharap doa dapat memulihkan akalnya. Namun di hadapan rumah suci itu, Majnun justru berdoa, “Ya Allah, tambahkan cintaku kepada Laila, dan jangan Engkau sembuhkan aku darinya.”
Sementara itu, Laila dipaksa menerima pernikahan dengan seorang pria bangsawan yang kaya dan terpandang. Meski telah menjadi istri orang lain, hatinya tetap terikat pada Majnun. Ia menjalani hidup dalam kesedihan yang senyap,setia dalam rasa, meski terbelenggu oleh takdir dan adat.
Pada suatu waktu, takdir mempertemukan kembali Laila dan Majnun. Namun pertemuan itu tidak lagi seperti yang dibayangkan. Majnun tidak memandang Laila sebagaimana manusia memandang kekasihnya. Cintanya telah berubah menjadi sesuatu yang melampaui bentuk dan raga.
Ia mengatakan bahwa yang ia cintai bukanlah tubuh Laila, melainkan maknanya. Cinta itu telah menjelma menjadi ikatan ruhani yang dalam.
Hari demi hari berlalu. Suami Laila wafat, namun takdir tetap tidak mempersatukan mereka dalam kehidupan dunia. Tak lama kemudian, Laila jatuh sakit dan meninggal dunia, membawa cintanya dalam keheningan.
Ketika kabar wafatnya Laila sampai kepada Majnun, ia mendatangi makam kekasihnya. Di sana, di sisi pusara yang paling dicintainya, Majnun menghembuskan napas terakhir, seakan jiwanya baru menemukan ketenangan setelah cinta mencapai keabadiannya.
Kisah Laila dan Majnun kerap dikenang sebagai tragedi cinta. Namun sesungguhnya, ia adalah kisah tentang manusia yang berhadapan dengan batas perasaannya sendiri.
Cinta yang lahir dari ketulusan dapat berubah menjadi penderitaan ketika tidak disertai kebijaksanaan dan pengendalian diri.
Majnun mencintai dengan sepenuh jiwa, tetapi cintanya tumbuh tanpa penyangga adab. Ia jujur pada perasaannya, namun gagal menjaga kehormatan orang yang dicintainya.
Dari sini, kisah ini menyampaikan pelajaran yang halus namun tegas: bahwa cinta tidak cukup hanya dengan ketulusan, melainkan juga menuntut tanggung jawab dan kesadaran.
Kisah ini juga mengajarkan bahwa tidak semua cinta ditakdirkan untuk berujung pada kepemilikan. Ada cinta yang justru diuji melalui jarak, penantian, dan ketidakmungkinan.
Dalam dunia yang sering memaksa segala sesuatu harus pasti dan dimiliki, Laila dan Majnun mengajarkan seni menerima bahwa mencintai tidak selalu berarti menguasai, dan berpisah tidak selalu berarti kegagalan.
Namun kisah Majnun juga menjadi peringatan keras. Ketika cinta membuat seseorang kehilangan arah hidup, tercerabut dari tanggung jawab sosial, dan menjauh dari akal sehat, maka cinta itu tidak lagi menghidupkan. Ia berubah menjadi beban yang menggerogoti jiwa.
Dalam pembacaan yang lebih dalam, terutama dalam tradisi tasawuf, Laila dan Majnun dipahami sebagai perjalanan ruhani.
Laila melambangkan Yang Dicintai, sementara Majnun adalah pencari yang larut hingga dirinya lenyap. Pada titik ini, cinta manusia diarahkan naik, dari keterikatan duniawi menuju cinta yang lebih tinggi, yang memberi makna dan ketenteraman.
Mungkin karena itulah kisah ini terus hidup lintas zaman. Ia tidak menawarkan akhir yang bahagia, tetapi menyuguhkan pelajaran yang jujur, bahwa cinta membutuhkan adab, kesadaran, dan arah. Tanpa itu, cinta yang paling tulus pun dapat berubah menjadi kesedihan yang panjang.
Dan barangkali, di sanalah letak kekuatan kisah Laila dan Majnun, ia tidak mengajarkan bagaimana memiliki cinta, melainkan bagaimana menjaga diri saat mencintai.[]
Tidak ada komentar