Bupati dan Wakil Bupati Aceh Selatan H.Mirwan dan H.Baital Mukadis beserta Istri Oleh : Muhammad Hasbar Kuba (Pemuda Aceh Selatan)
ACEH SELATAN sedang menunggu arah baru di bawah kepemimpinan H. Mirwan MS. Harapan besar diletakkan di pundaknya untuk membawa perubahan nyata bagi daerah.
Namun, belakangan muncul kegelisahan seperti energi Bupati justru banyak tersita untuk urusan tamu. Dari pagi hingga larut malam, rumah dinas seolah tak pernah sepi. Sekilas, ini terlihat sebagai bentuk pelayanan, tetapi apakah itu benar-benar esensi kepemimpinan?
Jika pola ini dibiarkan, pembangunan bisa tersendat. Roda pemerintahan terancam macet karena kepala daerah terjebak dalam rutinitas seremonial yang tak berujung.
Urusan kecil yang semestinya selesai di tingkat keuchik atau camat malah dibawa langsung ke Bupati. Akibatnya, agenda strategis, program prioritas, dan kebijakan besar bisa tertunda. Pada akhirnya, rakyatlah yang paling dirugikan.
Bupati memang simbol pelayanan, tetapi bukan berarti setiap tamu harus diterima langsung olehnya. Di sinilah pentingnya pendelegasian dan manajemen waktu.
Tugas-tugas non-strategis harus ditangani pejabat bawahannya, sementara Bupati hanya fokus pada hal-hal fundamental. Tanpa disiplin ini, program prioritas bisa terabaikan dan visi besar kepemimpinan akan tergerus rutinitas kecil.
Lebih berbahaya lagi bila seorang kepala daerah tidak konsisten dan mudah terombang-ambing oleh tekanan sesaat atau bisikan sekelompok orang. Publik bisa kehilangan kepercayaan ketika keputusan Bupati berubah-ubah tanpa arah yang jelas.
Kepemimpinan yang goyah bukan hanya melemahkan wibawa pribadi, tapi juga merusak tata kelola pemerintahan. “Bupati itu bukan juru tamu, tetapi pengambil keputusan. Jika kebijakan sering berubah, publik akan bingung dan kepercayaan masyarakat bisa runtuh.”
Perlu diingat, seorang Bupati bukanlah pebisnis yang bisa berspekulasi atau mencoba-coba. Setiap kebijakan yang ia ambil menyangkut hajat hidup banyak orang, sehingga harus didasari data, pertimbangan rasional, serta keberanian untuk konsisten.
Rakyat Aceh Selatan membutuhkan Bupati yang melayani, tetapi bukan sekadar sibuk melayani tamu tanpa henti. Yang dibutuhkan adalah pemimpin yang hadir sebagai nahkoda: mengarahkan kapal besar daerah menuju tujuan yang jelas. Jika tidak, kepemimpinan akan habis dalam rutinitas melelahkan tanpa hasil nyata.
Maka, sudah saatnya Bupati H. Mirwan MS menata ulang pola kepemimpinannya. Setiap tamu yang diterima haruslah tamu strategis dengan keperluan yang jelas.
Di sinilah peran ajudan (ADC) dan lingkaran dekat Bupati untuk melakukan penyaringan awal, mana yang harus langsung ke Bupati, mana yang cukup didelegasikan ke dinas atau camat.
Tidak ada alasan membuang waktu untuk percakapan basa-basi atau nostalgia yang tidak relevan dengan tugas seorang kepala daerah.
Kini bola ada di tangan H. Mirwan MS. Apakah ia akan tetap terjebak dalam “politik juru tamu” atau berani bertransformasi menjadi pemimpin yang tegas, konsisten, dan fokus pada prioritas rakyat? Sejarah hanya akan mencatat.[]
Tidak ada komentar