Gampong Sapik Gelar Pelatihan Adat Istiadat

Redaksi
15 Jan 2026 18:36
Daerah News 0 38
2 menit membaca

ASPIRATIF .ID – Gampong Sapik Kecamatan Kluet Timur, Kabupaten Aceh Selatan menggelar pelatihan adat istiadat dalam Bahasa Kluet.

Pelatihan itu mengangkat tema “Tradisi Mekato” dalam acara pesta seperti, turun mandi, sunat rasul, perkawinan, kematian, dan lain-lain yang dilaksanalan pada Gedung Serbaguna Gampong Sapik, 11 sampai 14 Januari 2026.

Dalam acara penutupan pelatihan itu, Pj Keuchik Gampong Sapik, Amril Norman SE kepada media ini, Kamis (15/1) menyampaikan, apresiasinya atas terselenggaranya pelatihan ini dengan sukses dan lancar.

Harapannya, semoga mendapatkan hasil yang maksimal dan dapat diterapkan di masyarakat.

“Platihan kali ini adalah baru awal dan seterusnya nanti saya berharap semoga keuchik yang baru akan menganggarkan kembali untuk biaya pelatihan selanjutnya,” kata Amril.

Disebutkannya, salah seorang yang menjadi narasumber dalam pelatihan ini adalah, Yusnir S.Pd merupakan seorang tokoh masyarakat dan tetua di Gampong Sapik.

Sementara itu narasumber, Yusnir menjelaskan, banyak nilai-nilai yang terkandung dalam “Mekato” antara lain, nlai multikultural meliputi memanusiaan, keadilan dan demokrasi, musyawarah serta mufakat.

“Nilai pendidikan karakter meliputi religius, kejujuran, hirmat dan santun, kreatif, percaya diri, kerja keras, kepemimpinan, perilaku baik dan rendah hati, kemandirian, tanggung jawab, cinta damai, rasa ingin tahu, toleransi, peduli sosial, bersahabat, komunikatif, kerja sama, sera kooperatif merupakan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya,” ujar Yusnir.

Lebih lanjut dikatakannya, tradisi Kluet ini sebagai bagian dari budaya masyarakat Kluet itu sendiri, sudah seharusnya dijaga dan dilestarikan oleh masyarakat kita selaku pemiliknya, termasuk tradisi lisan (penuturan).

Yusnir menjelaskan, tradisi lisan banyak mengandung nilai positif yang dapat diterapkan dalam menjalani kehidupan bermasyarakat maupun bernegara, karena pada hakikatnya, tradisi lisan hadir di tengah-tengah masyarakat tradisional yang begitu menjaga dan memelihara dari berbagai aspek kehidupan.

“Hal ini terkait dengan adanya pesan moral, kepercayaan, norma yang dipatuhi masyarakat Kluet sehingga menjadikan Identitas dan ciri khas bagi masyarakat Kluet itu sendiri,” ungkap Yusnir.

Sedangkan salah seorang peserta, Yusnadiwan SPd menuturkan, pelatihan ini diikuti oleh 22 orang peserta dari unsur pemuda setempat.

Katanya, ujuan pelatihan ini terutama untuk melestarikan adat-istiadat dan budaya Kluet agar tidak hilang dan tidak punah.

“Tradisi Mekato ini biasanya dilaksanakan ketika acara kenduri turun mandi (saat bayi), sunat Rasul (khitan), perkawinan, menurunkan jenazah, kenduri kematian, menyerahkan anak masuk anggota pemuda, dan lain sebagainya,” pungkas Yusnadiwan.**

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x
x