Cerita Sufi tentang Tawadhu

Redaksi
26 Des 2025 09:33
News Tarikh 0 102
3 menit membaca

Ada seorang Sufi terkenal bernama Abu Hamzah al-Baqdadi.Orang memanggilnya ‘Wali Allah yang berjalan di Pasar”.

Dia alim, wara’,zuhud, tapi yang paling orang ingat tentangnya ialah dia tak pernah meninggikan kepalanya dia atas bahu orang lain, walaupun dia jauh lebih tinggi ilmunya.

Satu hari, seorang pemuda sombong yang baru selesai belajar di beberapa kota datang mencari Abu Hamzah.Dia bawa sekantong soal susah ingin menguji wali itu.

Dia menjumpai Abu Hamzah sedang duduk di tepi pasar,sedang menjahit sandal orang. Kebetulan Abu Hamzah pakai baju bertambal,kepala menunduk,tangan penuh bekas jarum.

Pemuda itu berdiri tegak dan mengangkat suaranya:

” Wahai Syaikh, saya datang dari jauh ingin bertanya masalah ilmu yang sangat dalam.Kalau tuan tak mampu jawab,lebih baik tuan akui saja,” kata pemuda itu.

Abu Hamzah tak mengangkat kepalanya.Dia terus menjahit sandal lalu berkata perlahan :

“Duduklah dulu,anakku.Sandal kau koyak di tapak kiri. Biar aku betulkan dulu ,baru kita bincang tentang ilmu,” ujar Abu Hamzah.

Pemuda itu naik angkuh,suaranya lebih kuat :

“Saya datang bukan untuk menjahit sandal,saya datang untuk memperbaiki aqidah tuan kalau tersalah,” kata pemuda itu dengan nada tinggi.

Abu Hamzah senyum kecil, tetap tunduk. Dia ambil sandal pemuda itu ,terus menjahitnya dengan penuh kasih sayang seperti menjahit sandal anak sendiri.

Sambil menjahit,dia berkata tanpa angkat muka:

“Anakku, ilmu yang paling dalam bukan yang ada dalam soalan-soalan berat, tapi ilmu yang membuat kita merasa paling bawah,” kata Abu Hamzah.

“Kalau kau datang dengan kepala tinggi,kau takkan nampak kebenaran walaupun ia terbentang di depan mata,” lanjutnya.

“Tapi kalau kau datang dengan kepala tunduk,walaupun kau tak tanya apa-apa,kebenaran akan datang sendiri menegur kau,” sambung Abu Hamzah.

Aku ini hanyalah tukang jahit sandal yang tak layak angkat muka depan orang alim seperti dirimu.

Kalau ada apa yang kamu rasa salah padaku, sudilah kau ajar aku, supaya aku tak mati kecuali dalam kebaikan.

Pemuda itu terpaku.Dia lihat jari-jari yang kasar penuh kesan tusukan jarum.Dia lihat mata Abu Hamzah yang tak pernah sekalipun naik memandangnya dengan sombong. Dia senyuman yang tak ada sedikitpun merasa menang.

Tiba-tiba pemuda itu rebah menangis di depan Abu Hamzah.Dia cium kaki wali itu berkali-kali:

“Maafkan saya,saya yang bodoh,saya yang sombong,” ujarnya.

“Saya datang nak nenguji tuan, tapi tuan telah menguji hati saya, dan saya gagal telak,” sambungnya.

Abu Hamzah angkat pemuda itu, memeluknya lalu berkata:

“Sekarang kau sudah lulus anakku, ujian tawadhu bukan untuk orang lain, tapi untuk kita sendiri,” kata Abu Hamzah.

“Bila kita merasa paling rendah,pada saat Allah angkat kita paling tinggi di sisiNya,” lanjut Abu Hamzah.

Sejak hari itu,pemuda itu tak pernah lagi berjalan dengan dada tegak di hadapan manusia.

Dia berjalan dengan kepala tunduk,tapi hatinya terasa melayang tinggi di langit ketujuh.

Karena dia akhirnya paham,tawadhu bukan merendah diri sampai jadi hina.Tawadhu ialah merendah diri sampai Allah sendiri yang angkat kita.[]

 

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x
x