Cerita Sufi Tentang Iri Hati

Redaksi
24 Des 2025 07:57
News Tarikh 0 124
3 menit membaca

Ada dua orang sahabat Sufi yang tinggal sebelahan rumah di sebuah kampung kecil, si Awwal dan si Tsani.

Awwal miskin, tapi hatinya putih bersih.Tsani kaya,rumah besar,kebun luas,tapi hatinya selalu panas bila tengok Awwal.

Setiap kali Awwal dapat apa-apa, walaupun kecil,Tsani merasa terbakar. Awwal dapat sebiji kurma jatuh dari pokok tetangga.Tsani beli seonggok kurma,tapi tak sedap dimakan.

Awwal senyum dengan anak-anak yatim di masjid.Tsani bagi duit banyak pada mereka,tapi anak-anak itu tetap lari kembali ke pangkuan Awwal.

Akhirnya Tsani tak tahan. Dia pergi jumpa seorang Syaikh tua di luar kampung.

“Ya Syaikh,ajari saya cara supaya hati ini tak iri lagi.Aku sanggup bayar berapun,”.

Syaikh tua pandang dia lama,kemudian senyum.

“Tak perlu bayar,cuma buat satu perkara, tiga hari tiga malam,kau jaga rahasia ini.Kau harus berdoa dengan sungguh- sungguh supaya Awwal dapat tiga kali lipat dari apa yang kau miliki sekarang.Rumah tiga kali besar, kebun tiga kali luas,emas tiga kali banyak.Doa agar benar-benar dia mendapatkannya,”.

Tsani terkejut,” tiga kali lipat?,Saya tak sanggup,ya Syaikh, itu yang saya takut selama ini,”.

Syaikh geleng kepala.

“Kalau kau tak sanggup doa itu, itu artinya kau masih hamba kepada iri hati,”.

“Kalau kau mampu doa itu dan hatimu masih sakit,maka kau akan sakit.Tapi kalau kau berdoa itu tiga hari tiga malam, dan pada pagi keempat kau terbangun dengan hati tenang,maka kau sudah sembuh,”.

Tsani pulang dengan muka hitam.Malam pertama dia coba berdoa:

” Ya Allah,berilah Awwal tiga kali ganda dari aku,”

Baru tiga kali ganda,mulutnya sudah kering, dadanya sesak,dia terhenti.

Malam kedua dia paksa lagi.Tengah malam dia terjaga menangis,kepala berdenyut-denyut.Dia rasa kalau Awwal dapat tiga kali ganda,dia sendiri akan mati.

Pada malam ketiga,dia tak tidur langsung.Dia duduk ditengah rumah besarnya yang sepi,lihat lampu-lampu kristal,permadani persia,peti-peti emaa.

Tiba-tiba dia rasa semuanya kosong.Dia merasa malu pada dirinya sendiri. Menjelang subuh, tanpa sadar,dia keluar rumah tanpa alas kaki,berjalan ke rumah Awwal yang bersebelahan. Dia ketuk pintu perlahan.

Awwal buka pintu, terkejut.

“Tsani?, ada apa, masuk dulu,”

Tsani tak masuk.Dia terus sujud didepan pintu,menangis sampai bahu dia bergoyang-goyang.

“Maafkan aku,Awwal,maafkan aku.

“Selama ini aku iri padamu.Aku iri pada ketenangan kau, pada senyuman kau,pada anak-anak yatim yang lebih sayang kau,”

“Aku kaya,tapi aku miskin di hati.Aku datang minta maaf,dan aku datang minta ajar aku cara jadi seperti dirimu,”

Awwal angkat Tsani dan memeluknya.

“Bangun saudaraku,kau tak perlu jadi seperti aku,”

Kau cuma perlu jadi dirimu,tapi dengan hati yang baru.Hartamu bukan musuh, iri hati yang musuh.

Mulai sekarang, mari kita bekerjasama.Rumahmu ini terlalu besar untuk satu orang.

Kita jadikan separuh rumah itu rumah anak yatim.Kebun kau terlalu luas.Kita tanam untuk orang lapar.Emas kau terlalu banyak.Kita belikan kebebasan hati kita.

Pagi itu juga mereka berdua bawa semua anak yatim masuk ke rumah Tsani.Mereka makan bersama di lantai, ketawa bersama,tidur bersama. Dan anehnya,sejak hari itu Tsani tak pernah lagi rasa iri.

Dia malah jadi orang yang paling gembira setiap Awwal dapat rezeki,sebab dia tahu rezeki Awwal adalah rezeki hatinya juga.

 

Syaikh tua kemudian datang melawat.Dia lihat Tsani dan Awwal duduk sama-sama di bawah pohon,bagi makan burung dengan roti kering.

 

Dia tersenyum,kemudian berkata perlahan pada muridnya:

 

” Lihat itu,iri hati  bukan sebab kita dapat lebih dari pada orang lain, tapi sebab kita akhirnya mau orang lain dapat lebih dari kita,”.[Red]

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x
x