
Madinah siang itu terasa berbeda. Udara hangat menyelimuti kota,namun ada kesunyian yang sulit dijelaskan seakan langit dan bumi sama-sama menahan napas.
Di sebuah rumah sederhana berdinding tanah liat, Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam terbaring lemah.Penyakit yang beliau rasakan kali ini tidak seperti sebelumnya. Para sahabat merasakannya,para istri beliau menyadarinya, dan hati Madinah pun seolah tahu : hari-hari ini bukan hari biasa.
Di antara lorong-lorong Madinah, seorang wanita melangkah dengan langkah yang begitu dikenal. Jalannya lembut, penuh wibawa dan begitu mirip dengan Rasulullah. Dialah Fatimah Az-Zahra r.a, putri yang paling menyerupai ayahnya dalam akhlak, kelembutan dan keteguhan iman.
Wajah Fatimah tampak letih oleh kekhawatiran. Sejak beberapa hari terakhir,ia melihat ayahnya semakin sering menahan rasa sakit. Senyum beliau tetap ada, tetapi tubuhnya tak lagi sekuat dulu.
Hati Fatimah tak sanggup menunggu lebih lama. Kerinduan dan kecemasan membawanya ke rumah itu, rumah yang menjadi saksi detik-detik terakhir kehidupan manusia yang paling mulia.
Ketika Fatimah tiba di depan pintu, Rasulullah mengetahuinya. Beliau berdiri,meski sakit untuk menyambut putrinya.Sebuah penghormatan yang selalu beliau lakukan untuk Fatimah.
Dengan senyum lembut, beliau mempersilahkannya masuk, bahkan mendudukkannya di tempat duduk beliau sendiri. Aisyah menyaksikan pemandangan itu. Ia tahu betapa istimewanya Fatimah di mata Rasulullah.
Di dalam ruangan kecil itu, suasana terasa berat. Tidak ada tangis, tidak ada kata-kata, tetapi hati-hati yang hadir merasakan sesuatu yang besar sedang mendekat.
Fatimah duduk dekat ayahnya, memandang wajah yang sangat ia cintai, wajah yang sejak kecil menjadi tempatnya berlindung. Lalu, Rasulullah memanggil Fatimah mendekat.
Beliau mencondongkan tubuhnya dan membisikkan sesuatu ke telinga putrinya.Hanya satu bisikan, namun seketika,wajah Fatimah berubah. Matanya membesar, dadanya naik turun menahan sesak.
Air mata jatuh tanpa suara.Tangsinya bukan tangis keras, melainkan isak yang lahir dari hati yang hancur. Seolah dunia runtuh dalam satu detik.
Aisyah memperhatikanya dengan heran. Ia belum pernah melihat Fatimah menangis sedalam itu. Tak lama kemudian, Rasulullah kembali memanggil Fatimah untuk kedua kalinya, lalu membisikkan sesuatu ke telinga nya.
Dan kali ini ajaib, tangis itu terhenti. Air mata masih membasahi pipi Fatimah, tetapi wajahnya berubah. Kesedihan perlahan sirna, digantikan ketenangan yang lembut.
Bibirnya terangkat, membentuk senyum yang bening.Senyum seorang hamba yang telah menerima takdir dengan ridha.
Aisyah semakin terkejut. Dalam satu majelis, ia menyaksikan dua keadaan yang sangat bertolak belakang : tangis yang paling dalam, lalu senyum yang paling tenang.
Setelah Rasulullah wafat, Aisyah bertanya kepada Fatimah tentang apa yang dibisikkan ayahnya hari itu. Fatimah menjawab dengan suara pelan : ” Pada bisikan pertama, Rasullullah memberitahuku bahwa beliau akan wafat karena sakit yang beliau derita ini. Maka aku menangis.”
Kemudian Fatimah melanjutkan: “Pada bisikan kedua, beliau memberitahuku bahwa aku adalah orang pertama dari keluarganya yang akan menyusul beliau,dan aku adalah pemimpin wanita penghuni surga. Maka aku pun tersenyum.”
Tak lama setelah itu, sebagaimana sabda Rasulullah, Fatimah benar-benar menyusul ayahnya hanya beberapa bulan setelah wafat beliau
Di rumah sederhana itu, sejarah mencatat sebuah momen agung: tentang cinta seorang ayah dan putrinya, tentang iman yang mengalahkan duka, tentang perpisahan yang tidak berakhir di dunia.[Red]
Tidak ada komentar