Fatimah dan Kalung yang Tak Pernah Mengkikat Hatinya

Redaksi
1 Jan 2026 10:21
News Tarikh 0 280
3 menit membaca

Madinah menjelang senja selalu memiliki ketenangan yang sulit dijelaskan. Langitnya lembut,anginnya pelan,dan langkah orang-orang menuju masjid seperti alunan doa yang tidak pernah putus.

Di tengah kota yang diberkahi itu, tinggal seorang wanita yang tidak sekedar mulia ,tetapi juga di cintai langit,Fatimah binti Muhammad Shallahu alaihi wasallam.

Rumah Fatimah kecil,sederhana dan hampir tak berbeda dari rumah-rumah fakir di Madinah. Tetapi dalam rumah itu terpancar kehangatan yang melampaui harta manapun.

Ia hidup bersama suaminya, Ali bin Abi Thalib dalam kesederhanaan. Terkadang mereka hanya memiliki sedikit gandum untuk dijadikan roti. Namun, dibalik kesederhanaannya, Fatimah adalah wanita yang hatinya paling kaya.

Hari itu,sebuah hadiah kecil sampai ke rumah mereka,sebuah kalung emas. Tidak besar, tidak megah dan tidak berlebihan. Cukup tipis dan sederhana.

Perhiasan itu mungkin tak seberapa bagi perempuan lain,tetapi tidak bagi Fatimah yang seumur hidup hampir tak pernah memakai perhiasan,kalung itu seperti sinar kecil yang menyentuh hatinya.

Fatimah memegang kalung itu perlahan, seolah takut merusak kilaunya. Ia tersenyum,bukan karena kesenangan dunia,tetapi karena perhiasan itu merupakan sesuatu yang jarang ia miliki.

Ali memandangnya dengan lembut.

“Wahai Fatimah,” kata Ali,” Jika engkau ingin memakainya, pakailah.Engkau tidak melakukan dosa apapun. Dan engkau tetap wanita penghulu surga.”

Fatimah mengannguk malu.Ia mengenakan kalung itu di lehernya.Sinar emasnya memantul lembut pada wajah Fatimah yang bersinar dengan kesucian,membuatnya tampak lebih anggun. Namun, persiasan itu bukanlah bagian dari dirinya, ia tetap Fatimah yang zuhud,sederhana dan bersih hatinya.

Ketika ia masuk ke rumah Rasulullah,suasana berubah. Rasulullah menatap putrinya,putri yang sejak kecil menjadi cahaya hidupnya, dan pandangan beliau tertuju pada kalung emas itu.

Beliau tidak mengangkat suara,tidak menegur keras,tidak menghardik. Tetapi mata beliau memerah. Fatimah berhenti,ia tidak pernah kuat melihat ayahnya bersedih,meski sedikit.

“Wahau Fatimah,” suara Rasulullah lirih,nyaris seperti bisikan dari hati yang penuh kasih.

“Apakah engkau senang bila manusia berkata,putri Muhammad memakai perhiasan dunia?”

Tidak ada kemarahan dalam kalimat itu. Yang ada hanyalah hati seorang ayah yang takut dunia,walau sedikit,menodai kemurnian putri kesayangannya.

Rasulullah tahu Fatimah tidak pernah mengejar gemerlap dunia.Tapi beliau tidak ingin umat mengira bahwa keluarga Rasulullah mencari kemewahan.

Fatimah menunduk, tiba-tiba kalung yang tadi terasa indah,kini berat seperti beban besar di dadanya. Ia tak menjawab, ia hanya menatap lantai,merasakan sesuatu yang jauh lebih menyakitkan daripada kehilangan perhiasan,perasaan bahwa ia tanpa sengaja membuat ayahnya bersedih.

Tanpa menunggu lama,Fatimah kembali ke rumah. Ia menjual kalung itu dan uang hasil penjualannya digunakan untuk membeli seorang budak lalu ia memerdekannya.

Tidak ada keraguan,tidak ada penyesalan. Fatimah tahu,ridha Allah dan Rasulnya lebih manis  daripada seluruh perhiasan dunia.

Ketika Rasulullah mendengar kabar apa yang dilakukan putrinya,beliau menunduk,dada beliau berguncang pelan,air mata itu akhirnya jatuh.

Beliau memanggil Fatimah dan memeluknya erat sekali,dengan suara bergetar karena haru Rasulullah berkata:

“Semoga Allah merahmati Fatimah,ia tidak pernah melakukan sesuatu yang membuatku membencinya.”

Di antara pelukan itu,Fatimah tersenyum.Tangisnya pun jatuh,tapi itu adalah tangis kemuliaan. Kalung emas itu memang telah pergi,tetapi ia telah menukar hal kecil dari dunia dengan sesuatu yang lebih besar di sisi Allah, derajat yang tinggi dan hati yang dicintai Rasulullah.[Red]

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x
x