Foto : IlustrasiSuatu ketika,Gubernur Mesir Amr bin Ams merasa kurang nyaman setiap kali keluar dari istananya. Pemamdangan sebuah gubuk reyot milik seorang Yahudi tua yang berdiri di depan istana membuatnya berpikir.
“Alangkah baik jika gubuk itu dirobohkan,” katanya dalam hati.
“Tanahnya bisa dipakai untuk membangun sebuah masjid yang indah dan megah,” guman Amr bin Ash.
Ia pun memerintahkan agar tanah tersebut dibeli. Namun ketika kabar itu sampai pada sang pemilik rumah, wajah pria Yahudi itu tua itu pucat basi.Hatinya bergolak hebat,dengan amarah ia menolak.
“Aku tidak ingin rumahku dihancurkan,aku tidak ingin tanahku diambil begitu saja,” katanya.
Namun,siapa yang peduli,ia hanyalah rakyat kecil yang tak punya kuasa.Suara protesnya terhalang tembol kekuasaan. Perintah gubernut Mesir tak bisa dibatalkan.
Hatinya dicekam sakit dan dendam.Tetapi ,tiba-tiba ia teringat kabar tentang seorang pemimpin yang adil di Madinah,Khalifah Umar bin Khattab.
Konon,ia pemimpin yang jujur,sederhana dan penuh rasa keadilan. Maka berangkatlah Yahudi tua itu menempuh perjalanan jauh menuju Madinah.
Sesampai di Madinah, ia mencari-cari istana megah tempat tinggal sang khalifah. Namun,ia tak menemukannya.Hingga akhirnya ia melihat seorang pria berwajah tegas duduk dibawah pohon kurma.
“Wahan tuan,” tanyanya,”apakah engkau tahu dimana Amirul Mukminin?,Aku ingin mengadukan sesuatu kepadanya.Di mana istananya,siapa pengawalnya,bagaimana pakaian kebesarannya dan dimana ia sekarang?”.
Pria itu menatapnya dengan mata teduh lalu berkata:
“Istananya adalah tanah yang beralaskan lumpur.Pengawalnya adalah janda-janda tua,anak yatim dan orang miskin. Pakaian kebesarannya adalah rasa malu dan takwa.Dan orang yang engkau ajak bicara inilah Amirul Mukminin,”.
Dengan hati bergetar,Yahudi tua itu menceritakan semua keluh kesahya tentang Amr bin Ash di Mesir. Mendengar itu,wajah Umar berubah memerah.Tanpa banyak kata. Ia mengambil tulang unta lalu menggoreskan pedangnya hingga membentuk sebuah garis lurus.
Kemudian Umar berkata,
“Bawalah tulang ini ke Mesir,berikan kepada Gubernurmu.
Yahudi tua menerima tulang tersebut dengan bingung.Namun ia segera kembali ke Mesir dengan membawa pesan sang khalifah.
Sesampainya di hadapan Amr bin Ash,ia menyerahkan tulang bergaris lurus itu.Seketika tubuh sang gubernur bergetar. Wajahnya pucat,dan ia langsung memerintahkan penghentian proyek pembangunan masjid. Gubuk yahudi itu dikembalikan kepadanya.
Dengan heran Yahudi tua itu bertanya,
“Apakah maksud semua ini?,mengapa engkau begitu takut hanya dengan sepotong tulang?”
Amr bin Ash menggenggam bahunya dan berkata,
“Wahai kakek, garis lurus adalah peringatan keras dari sang khalifah.Jika aku tidak bisa berlaku lurus sebagai pemimpin,maka dialah yang akan meluruskan aku dengan pedangnya,”
Yahudi tua itu terdiam,matanya berkaca-kaca.Ia terpesona dengan ketegasan dan keadilan yang diperlihatkan Umar bin Khattab.Ia pun berkata lirih,
“Inilah agama yang benar,yang menjunjung tinggi keadilan tanpa pandang bulu,”
Dengan hati tulus,ia akhirnya memeluk Islam. Dan dengan sukarela,ia menghibahkan tanahnya untuk pembangunan masjid yang dulu ia pertahankan.[Red]
Tidak ada komentar