Cerita Sufi Tentang Taubat

Redaksi
27 Des 2025 12:17
News Tarikh 0 176
3 menit membaca

Sebelum namanya harum dalam kitab Sufi,Fudhail bin ‘Iyadh adalah ketua perompak paling di takuti di Khorasan. Dia merompak kafilah,menahan musafir,dan hidup tanpa peduli dosa.

Orang menyebut namanya dengan takut,bukan hormat. Malam-malam dia memanjat dinding rumah orang,seolah-olah tidak langit yang melihatnya.

Pada suatu malam,ketika memanjat sebuah rumah untuk mencuri,dia mendengar suara lelaki tua membaca Al-Qur’an.Suara itu perlahan,tetapi setiap huruf nya menembusi dadanya.

Ayat itu menikamnya lebih kuat dari pada pedanf. Kakinya goyah,jari-jarinya terlepas dari tepi dinding.Dia turun dengan tubuh menggigil,duduk di tanah,menutup wajahnya.

“Ya Allah, jika bukan malam ini aku kembali kepada-Mu,aku tidak akan kembali selama-lamanya,” katanya dalam hati.

Malam itu, seorang perompak mati dan seorang hamba lahir.

Fadhail meninggalkan jalan gelap,mengasingkan diri,menangis dalam sholat,dan hidup dalam ketakutan bahw taubatnya tidak diterima.

Orang melihat perubahan itu seperti melihat gunung bergerak,mustahil ,tetapi berlaku di depan mata.Namun, taubat tidak menjadikan hidupnya mudah.

Tidak lama setelah itu,anak perempuannya jatuh sakit.Hidupnya fakir, makanan hampir tidak ada,obat tak mampu dibeli. Nafas aka itu semakin pendek setiap hari.Istrinya menangis hampir sepanjang malam,tetapi Fudhail duduk di sisi anaknya sambil memegang jemari kecil yang semakin sejuk.

“Abi, Allah marah kepada kita ya?” tanya anak itu perlahan,dengan suara hampir hilang.

Fudhail menahan dadanya yang seakan pecah.

“Tidak sayang,Allah sedang melihat bagaimana kita kembali kepadaNya,” jawabnya.

Anaknya tersenyum tipis, senyuman yang mematahkan jantung seorang ayah. Tidak lama kemudian ,tubuh kecil itu berhenti bernafas. Wajahnya menjadi pucat,matanya tertutup dalam diam yang sangat menyakitkan.

Istrinya meraung,memeluk tubuh yang semakin sejuk. Fudhail hanya mampu menundukkan kepala,menahan tangisan yang hendak meledak.

Orang kampung datang bertanya:

“Wahai Fudhail,engkau ahli ibadah,mengapa Allah uji engkau begini?”

Fudhail menjawab dengan suara yang pecah:

“Jika aku boleh memilih,aku mau dia hidup. Tetapi bila Allah memilih sebaliknya, adakah aku lebih cinta pilihanku dari pada pilihan ‘Nya?” jawabnya.

Tidakkah engkau sedih?” mereka bertanya lagi:

“Sangat,jawabnya,”tetapi redha bukan ketiadaan sedih.Redha ialah menerima pilihan Allah walaupun pilihan itu menghacurkan aku,” kata Fudhail.

Malam itu,selepas pengkebumian anaknya, Fudhail salat lama.Dalam sujudnya dia berkata:

“Ya Allah,dulu Engkau tutup aibku ketika aku penuh dosa.Hari ini Engkau ambil anakku, Engkau buka hakikat hatiku.Jika ujian ini menyucikan aku, aku redha.Jika ia meninggikan derajat kami,aku redha,jika ia karena sayang Mu ,aku redha sepenuhnya,”.

Bertahun kemudian,seorang lelaki datang mengadu:

“Hidupku sempit,rezeki hilang,keluargaku diuji.Aku tak mampu redha,”kata lelaki itu.

Fudhail memandangnya dengan mata yang pernah melihat gelap dosa dan gelap kubur anaknya.

“Kau pikir redha itu manis?” Tidak,redha ialah berjalan kepada Allah sambil hati berdarah,tetapi tetap tidak berpaling,” katanya.

Lelaki itu bertanya:

“Bagaimana aku tahu,aku sudah redha?”

Fudhail menjawab:

“Bila kau berhenti berkata’ kenapa aku? dan mulai berkata ‘ apa yang Allah mahu aku belajar?”

Menjelang wafatnya,Fudhail pernah ditanya:

“Apa ujian paling berat dalam hidupmu?”

Dia menjawab:

“Bukan ketika aku merompak,bukan ketika aku lapar,bukan ketika aku kehilangan anak.Yang paling berat ialah menjaga hati supaya tidak membenci takdir Allah walaupun takdir itu mematahkan aku,” kata Fudhail.

Kemudian dia menutup mata dan berkata;

” Taubat membersihkan aku.Takut menundukkan aku.Redha menyembuhkanku,”.[Red]

 

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x
x