Terkait Permintaan Maaf Kepala BNPB, Ini Kata HMI FKIP USK

Redaksi
2 Des 2025 20:29
Daerah News 0 21
2 menit membaca

ASPIRATIF. ID –– HMI FKIP USK menyampaikan dengan tegas bahwa ucapan Kepala BNBP yang mengatakan bencana di Sumatra dan Aceh “hanya mencekam di sosial media” adalah bentuk kelalaian moral yang tidak bisa dibungkus dengan alasan teknis apa pun.

Dalam kondisi rakyat berjuang mengevakuasi keluarga, menjaga anak-anak yang menggigil di pengungsian, dan menyelamatkan harta seadanya dari air bah, bahkan bertaruh nyawa dalam bencana alam yang sedang terjadi saat ini, pernyataan itu terasa seperti menertawakan duka.

Faktanya, di Aceh hari ini rumah hanyut, jalan terputus, bukit longsor, jaringan lumpuh, dan ribuan warga kehilangan tempat tinggal, bahkan menelan banyak korban nyawa.

“Ini bukan mencekam di sosial media, ini adalah kenyataan pahit yang sedang di alami masyarakat Aceh,” kata ketua HMI FKIP USK Rivaldi dalam rilis yang diterima Redaksi Aspiratif Id, Selasa (02/12/2025).

Lebih lanjut Rivaldi menjelaskan, namun setelah kritik menguat, keluarlah apa yang disebut sebagai klarifikasi dan permintaan maaf. Bagi kami, itu bukan pemulihan; itu hanya penutup luka yang tidak menyentuh inti persoalan

“Keu peulôm awai disipak, dûdo digusok; hate ka luka, “Untuk apa lagi? Sudah duluan disepak, baru mau disayang. Hati sudah terlanjur luka.” ujar Rivaldi.

“Kalimat kepala BPBN itu bukan sekadar tergelincir; itu penghinaan yang menampar harga diri masyarakat Aceh. Bagaimana mungkin derita rakyat dianggap berlebihan? Kami bukan angka statistik yang bisa diperhalus sesuka hati. Kami adalah manusia yang sedang berjuang, dan Aceh tidak pantas diperlakukan seperti bahan candaan.” tambahnya.

HMI FKIP USK menilai bahwa pernyataan Kepala BNBP telah memperlihatkan kebutaan empati yang sangat serius. Di tengah bencana, ucapan pejabat seharusnya menjadi penguat, bukan sumber kemarahan. Kata-kata memiliki harga, dan kali ini harga itu dibayar dengan kepercayaan rakyat yang terkikis.

“Aceh bukan panggung untuk komentar sembrono. Aceh adalah tanah yang sedang terluka dan setiap luka yang direndahkan hanya memperdalam bara kemarahan rakyat,” kecam Rivaldi.

“HMI FKIP USK berdiri tegak bersama masyarakat Aceh. Kami bukan hanya menyuarakan kritik; kami menjaga kehormatan publik dari cara pandang yang menjadikan Aceh sebagai objek kecil yang bisa diringankan seenaknya. Tidak ada yang kecil bagi kami ketika itu menyangkut martabat rakyat,” pungkasnya.[]

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x
x