T.Sukandi : Diduga Belatung  Dalam Menu Nasi Santri MUQ Aceh Selatan Berasal Dari Lalat Hijau

Admin
13 Sep 2025 09:41
Daerah News 0 30
3 menit membaca

ASPIRATIF.ID —  Kabar tak elok terkait dugaan adanya belatung dalam makanan santri di Madrasah Ulumul Qur’an (MUQ) Aceh Selatan kini menjadi sorotan publik. Pasalnya, selama ini Pemerintah Kabupaten Aceh Selatan selalu mengggelontorkan fulus untuk biaya makan di lembaga pendidikan yang terletak di Desa Panjupian Kecamatan Tapaktuan tersebut.

Akibatnya, para orang tua santri mulai meragukan makanan yang ada di MUQ dan mengantarkan makanan sendiri dari rumah untuk anak-anak mereka yang saat ini belajar di MUQ Aceh Selatan.

Menanggapi hal tersebut, pengamat Sosial Politik Aceh T.Sukandi kepada Aspiratif Id mengatakan, berdasarkan Peraturan Bupati  No 38 Tahun 2021 tentang tupoksi UPTD Pengelolaan Dayah Darul Aitami dan MUQ Dinas Dayah Kabupaten Aceh Selatan adalah tanggung jawab teknis pengawasannya berada di tangan UPTD yang sekaligus sebagai PPTK makan minum MUQ  Aceh Selatan.

“Andaikan dari awal rekanan penyedia makan minum dan UPTD sebagai PPTK MUQ Aceh Selatan sensitif dan responsif atas laporan para santri bahwa didalam menu makan santri ada belatungnya maka tentu permasalahan memalukan ini tidak akan sampai mencuat kepermukaan,” kata T.Sukandi.

“Tapi sayangnya para pihak terkait baik rekanan penyedia maupun UPTD sebagai PPTK yang bertanggung jawab mengawasi makan minum santri abai atas info yang berkembang di MUQ Aceh Selatan,maka akibatnya terjadi pengulangan kejadian yang sangat kita sesalkan Bersama,” lanjutnya.

Lebih lanjut, mantan anggota DPRK Aceh Selatan itu menjelaskan,dari bukti visual foto dan vidio yang di dapatkan ternyata benar bahwa di dalam menu makan santri MUQ Aceh Selatan tersebut terdapat belatung (larva) yang dapat dipastikan berasal dari lalat hijau penyebar bakteri.

“Jumlah siswa SMP dan SMA MUQ Aceh Selatan 230 orang santri, di karenakan keterbatasan kemampuan keuangan Pemda Aceh Selatan maka makan minum santri MUQ di subsidi hanya 190 orang dengan anggaran 1,6 M /tahun anggaran, sementara 40 orang santri lainya nonsubsidi atau makan minum dengan biaya sendiri yang membayar pada masyarakat Panjupian sebagai penyedianya (Rp.800.000/bulan),” ujar T.Sukandi.Menurut T.Sukandi,salah satu solusi di tawarkan pada Pemda Aceh Selatan melalui Dinas Dayah adalah dengan menyediakan ruang makan minum yang layak bagi santri MUQ Aceh Selatan.

Begitupun, pada UPTD / PPTK lakukan tupoksi pengawasan secara optimal dan maksimal untuk kebaikan bersama tentang makan minum santri MUQ Aceh Selatan.

“Saran empati pada Pemda dan rekanan, bahwa ada 8 orang guru MUQ yang tinggal di lingkup sekolah untuk mengawasi para santri baik siang maupun malam selama 24 jam” sebut T.Sukandi.

“Mirisnya, mereka para guru pengawas ini membayar makan dan minumnya di warung depan sekolah MUQ 700.000 / bulan, sementara gaji yang mereka terima 1,3jt / bulan (gaji mereka terima rata-rata 3 bulan sekali),” tambahnya.

T.Sukandi menambahkan, kiranya Pemda Aceh Selatan dapat berempati pada 8 orang guru pengawas santri ini untuk mendapatkan subsidi makan minumnya dikarenakan bagaimanapun MUQ adalah anak kandung Pemerintah Aceh Selatan yang sepantas dan selayaknya Pemda bertanggung jawab untuk membesarkannya.

“Konon lagi santri MUQ Aceh Selatan cukup gemilang dalam menorehkan prestasinya yang terbukti beberapa kali mengharumkan nama Pemerintah Daerah dan masyarakat Aceh Selatan baik di tingkat provinsi maupun di tingkat nasional,” tutup T.Sukandi.[Red]

 

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x
x